Malam ini Aku dan Patrick memutuskan untuk menyeberangi laut menggunakan kapal kayu yang dulu pernah kami pakai bersama. Kapal ini memang pe...

Akhirnya....


Malam ini Aku dan Patrick memutuskan untuk menyeberangi laut menggunakan kapal kayu yang dulu pernah kami pakai bersama. Kapal ini memang pernah menjadi saksi cerita kita selama ini, yah walaupun Aku dan Patrick sempat menyeberangi laut dengan kapal yang berbeda. Mungkin saat itu kami memang sedang di jalan yang berbeda juga.


Saat pertama kali bertemu dengan Patrick, jujur saja aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama walaupun Aku sempat bersikap aneh saat pertemuan itu. Yaaahhh… bumbu-bumbu remaja memang terkadang membingungkan.


“Perkenalkan, namaku Patrick, Tadi sepertinya kamu memanggilku” sambil menyodorkan tangannya ke arahku.


“Oiya, Maaf, Aku tidak tahu kalau kamu ternyata di belakangku” Aku pergi ke depan kapal dengan perasaan malu.


Entah apa yang terjadi setelahnya, yang aku rasakan adalah malu sekujur tubuh yang tidak bisa aku tampung sepenuhnya. Wajar saja, Wanita secantik dia memandangku dengan penuh semangat.


Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Patrick sudah mulai menjajaki tujuan-tujuannya, sedang Aku hanya diam dan memandangnya dengan penuh perasaan kosong dan bermimpi untuk bisa bertemu kembali.


“Kapan yah kita bisa bertemu kembali? Hmmm.. mungkin tidak akan pernah yah.. Ya mungkin saja”


Aku melanjutkan hari-hari dengan pikiran di kepala bahwa Aku juga harus menjajaki tujuan-tujuan yang sudah aku tulis yah walaupun mungkin banyak yang tidak bisa terwujud seperti salah satu tujuanku menjadi Mr. Krab versi dewasa. Yah anggap saja ini mimpi yang terlalu kekanak-kanakan, dan aku memilih untuk istirahat dalam waktu yang lama.


***


“Hai apa kabar?” Jariku mulai mengetik dengan lincahnya di depan laptop.


“Kabar baik. Gimana keadaan Pulau sekarang?”


“Alhamdulillah sehat, Ka. Aku tertarik sama foto-foto Pulauku yang kakak  share di Facebook. Kira-kira aku boleh minta ga yah? Kebetulan aku lagi suka banget edit foto”


“Boleh banget!! Mau foto yang mana?”


“Yang nomor 1,4,8, dan 9, Kak. Nanti kalau uda selesai aku share lagi yah..”


“Okeeeyyy..”


Facebook akhirnya menjadi saksi bisu percakapan Aku dan Patrick selama bertahun-tahun, ya walaupun Facebook-ku akhir-akhir ini ada yang meretas. Sedih, tentu saja.


***


“Krriiiinnnnggggg….”


Suara alarm membangunkanku, dan ternyata apa yang Aku alami hanyalah bunga tidur yang bisa dibilang indah bercampur sedih.


Tepat pukul 8.30 WIB, Aku mencoba untuk menghubungi Patrick dan mengajaknya agar mau mengarungi kapal bersama lagi. Tangan mulai dingin, kepala rasanya hampir pecah, Kaki rasanya tidak mampu menopang badan yang terlalu besar ini, dan pikiran kacau ke mana-mana. 


Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, Aku rasa Patrick juga merasakan yang sama, atau hanya pikiranku saja?


“Tringggg...triiinggg”


Aku ambil hpku dengan kondisi badan yang tidak menentu karena sedari dulu Aku adalah laki-laki pemalu yang tidak pernah mengajak lebih dulu seseorang untuk jalan-jalan.


“Triinggg….tringggg”


Keringatku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, Aku buka pelan-pelan aplikasi chat yang sangat terkenal, terpampang jelas di atas bahwa ada pesan yang belum terbaca, aku coba membacanya pelan-pelan,


“Tentu saja aku mau, bagaimana kalau kita jalan dengan perahunya tanggal 20 Agustus 2020? Jika berkenan, bisa kita agendakan”



Jantungku berdegup kencang, ternyata Patrick mau menerima ajakanku saat itu. 


“Nak, Ayo bangun… Kan hari ini kamu akan jadi Nahkoda” kata bapak sambil berbisik di telinga kananku.


Aku kemudian bersiap, menuju kapal yang sudah dikerumuni oleh banyak kerabat dekat.


18 Agustus 2020

Ditemani Lagu Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku

Kamal Muara


0 komentar: