- Memang, ada banyak alasan kenapa aku harus menyerah, tetapi aku tidak akan melakukannya. Kamar ini pernah menjadi saksi betapa hancurnya...

Terminal Waktu

- Memang, ada banyak alasan kenapa aku harus menyerah, tetapi aku tidak akan melakukannya.
Kamar ini pernah menjadi saksi betapa hancurnya Aku menunggu kabar darimu. Mulai dari khayalan, berbicara dengan cicak yang tidak meminta sayap untuk menangkap makanannya, dan terkadang itu menjadi bagian dari pelajaran yang Aku dapatkan untuk terus menunggumu walau apapun yang mungkin bisa terjadi setelah ini. Ya, Aku hanya ingin berusaha saja dan menuliskannya di sini. Mungkin ini adalah tempat terbaik untuk lari, lari dari semua perasaan aneh yang tersimpan.

Setiap hari yang terjadi sejak pertemuan denganmu tak pernah lagi sama, setiap hari yang Aku lalui jadi beda dari hari sebelumnya. Padahal, menurutku, Aku saja yang menyimpan ini. Kamu? Belum tentu.

Mengenalmu adalah anugerah terindah, sama seperti yang dinyanyikan oleh SO7 di salah satu lagunya. Entah sampai kapan Aku menyimpan semua ini dan selalu berdoa untuk selalu dipertemukan denganmu. Menghitung tanggal di kalender yang tidak pernah berubah dan menghitung hari yang terus berulang adalah salah satu hobiku yang beberapa bulan ini sedang Aku tekuni. Mungkin kau sudah tahu alasannya. Atau tidak ingin tahu? Ya itu jadi hakmu.

Selama kita berkenalan hingga akhirnya sering berbagi kisah, Aku selalu ingat bahwa kita jarang sekali berbicara langsung. Sekalinya dapat kesempatan, Aku terkadang hanya berdiam diri karena tidak kuat melihat matamu yang manis itu. Jujur saja. Tapi, di balik itu semua Aku jadi paham bahwa tidak ada kata yang pantas Aku ucapkan tentangmu kecuali "Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal kita bertemu".

Aku ingat pertemuan kita di atas meja itu. Pertemuan pertama Aku bisa ngobrol santai denganmu. Matamu tertuju melihatku. Aku ingin melihatnya, tapi tak bisa Aku pungkiri bahwa Aku tidak kuat menatapnya. Aku bergetar. Kamu pernah memberikan guyonan saat itu. Aku tertawa geli, tapi lagi-lagi tak bisa menatapmu.

Pertemuan yang begitu singkat, membuat Aku selalu ingin mengingat kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi selama kita berkenalan. Tak pernah terhitung sudah berapa kali kita menertawakan sesuatu, bertukar cerita, saling memberikan kabar, dan saling antusias dengan cerita yang sama-sama kita bagikan walaupun hanya melalui pesawat telepon. Terkadang situasi seperti ini membuatku sering berkhayal bahwa kamu mencintaiku. Memang agak konyol, tapi itulah Aku.

Di beberapa kesempatan, seringkali Aku berandai-andai bisa menemuimu, mengajakmu jalan, menembus beberapa momen bersamamu, bertukar cerita di taman dan ditemani pemandangan orang lalu lalang yang tak ada satupun dari mereka memerhatikan kita. Tapi sekarang itu hanya jadi angan-anganku saja.

Debur ombak, awan hitam, dan hujan rintik berubah menjadi dingin seketika. Petir menyambar beberapa awan yang terlihat oleh mataku. Perubahan suasana seperti ini seringkali Aku rasakan, terlebih ketika Kau jauh dariku seperti sekarang. Hingga saat ini, Aku selalu menyimpan pertanyaan tentang apa yang membuatmu punya rencana untuk menjauh dariku. Yang aku tahu, kamu hanya ingin pergi. Hanya itu. Tapi tahukah Kamu, tidak ada satu senti pun Aku bergerak dari tempatku menunggu. Masih ada rasa dan asaku terhadapmu. Rasa dan asa ini yang akhirnya membuatku bisa hidup dan tidak melepaskan cinta yang pernah terbangun. Itu pula yang menjadi alasan Aku menulis ini untukmu walaupun kau mungkin tidak punya waktu untuk membacanya.

Jakarta, 2 januari 2019
Mendengarkan Pure Saturday - Kosong



0 komentar: