Sebagai anak kecil, Ia adalah sosok yang selalu merawatku dan memberiku kasih sayang yang berlebih untuk seekor ikan cupang. Menurutku, Aku ...

Ikan Cupang dan Kebiasaan Manusia

Sebagai anak kecil, Ia adalah sosok yang selalu merawatku dan memberiku kasih sayang yang berlebih untuk seekor ikan cupang. Menurutku, Aku tidak secantik kawan-kawanku di pasar ikan tempatku dijual. Bahkan Ia juga tidak melakukan tawar menawar dengan penjualnya agar dapat ikan yang cantik di pasar itu seperti orang lain. Abdul, sebut saja Abdul. Anak yang menggemaskan, berambut ikal dan punya lesung pipit di sebelah kiri ini selalu riang gembira saat menemuiku. Tapi hingga seminggu Aku tinggal di rumah ini, Aku tidak pernah melihatnya bermain dengan anak-anak seusianya. Mungkin ini adalah alasan mengapa ia membeliku dari laki-laki berkumis di pasar tadi.

Aku tinggal di atas kulkas tepatnya di aquarium dengan ukuran 30cm x 30cm yang di dalamnya ada rumput dan batu sintetis yang tujuannya agar aku lebih nyaman seperti berada di sungai tempatku dulu diambil. Selain itu, tak lupa juga Abdul memberikanku tanaman mengapung untuk berindung dari serangan dari luar. Aquarium ini tidak begitu kecil dan tidak begitu besar untuk ikan cupang sepertiku, apalagi badanku kecil dan aku tidak suka jika ada cupang lain datang atau satu tempat denganku, entah kenapa.

Pagi ini udara begitu sejuk, tapi ada sesuatu yang janggal. Aku tidak melihat Abdul menyapaku pagi ini. Aku merasa cukup kesepian. Jika situasi ini terjadi, Aku hanya bisa mengitari sisi aquarium berharap ada encu (jentik nyamuk) yang bergoyang-goyang dan aku bisa memakannya sebagai pengganjal perut.

Hingga siang hari Aku tidak menemukan tanda-tanda Abdul datang memberiku makan atau sekedar bermain denganku dengan kacanya. Aku mencoba merebahkan tubuhku di rumput sintetis itu sambil berkhayal apakah Abdul akan mencarikanku kekasih? Semoga saja.

Satu hari berlalu, Aku tidak melihat tanda-tanda bahwa Abdul akan pulang. Selain Abdul, kakaknya Sri juga tidak ada tanda-tanda akan pulang atau sekedar rebahan di kamarnya. Biasanya, perempuan penikmat film Korea ini selalu di depan televisi dengan suara sangat keras dan Ia menangis dengan kencangnya hanya karena menonton film itu. Tak habis di situ, terkadang ia juga membeli poster-poster laki-laki Korea untuk ditempel di kamarnya. Tak heran jika kamarnya penuh dengan gambar laki-laki korea.

Hari ini, menurutku tidak akan ada lagi orang yang menemuiku, Aku mencoba memikirkan apa yang biasa dilakukan manusia jika keluar rumah. Satu yang aku ketahui, mereka mengejar dunia yang penuh dengan kesalahpahaman. Mengukur seberapa lebih mereka dari manusia yang lain, sementara aku hanya memainkan gelembung yang terus naik menuju permukaan aquarium. Hanya itu. Pun jika ada, manusia pula yang membuatkan kontes kecantikan untukku. Tapi, Aku, atau bahkan teman-teman cupangku tidak akan ada niatan seperti itu.

Aku mendengar suara dari balik pintu, Aku yakin itu suara orang membuka pintu. Semoga saja itu adalah Abdul. Muncul suara laki-laki dewasa yang selama ini belum pernah aku dengar, rasa-rasanya agak asing. Ia mendatangiku, mengatakan bahwa aku adalah cupang terbaik yang pernah ia lihat. Aku berpikir itu adalah salah satu tipu muslihat manusia untuk mengelabui siapapun. Ya mungkin saja.

Laki-laki itu memiliki perawakan yang agak aneh menurutku. Kuping yang lebar sebelah, berkumis tebal, tidak terlalu tinggi, dan yang terakhir adalah suka mengendap-endap ketika masuk ke rumah. Aku pikir ia akan mencuri, tapi kecurigaanku tak terbukti ketika Sri datang dan mengajaknya bicara. Entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka tertawa terbahak-bahak dan sesekali Sri menutup mulut laki-laki itu agar menahan tawanya. Aku tidak mengerti sikap Sri kepada laki-laki itu. Apakah itu sering dilakukan manusia pada umumnya? Tapi aku tidak terlalu yakin tentang hal itu karena Aku sering sekali melihat Abdul tertawa terbahak-bahak dan tak ada yang melarangnya.

Aku melihat kembali adegan mengendap laki-laki itu menuju kamar Sri. Sri membuka pintunya pelan dan mempersilahkan laki-laki itu masuk ke kamarnya. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tidak ada suara apapun. Mungkin saja mereka sedang main catur milik Abdul. Karena Aku tahu  Abdul sering sekali membawa caturnya ke kamar Sri. Katanya lebih enak di sana karena kasurnya empuk.

Laki-laki berkumis ini keluar dari kamar Sri dengan menggunakan handuk yang dililitkannya di pinggang untuk menutupi pahanya, kemudian menuju ruang tamu yang tak bisa Aku lihat karena tertutup dinding dapur. Tak lama setelah itu, Sri keluar dengan pakaian yang bagus dengan rambut basah. Yang ada dipikiranku adalah laki-laki itu sedang numpang mandi di kamar Sri. Mungkin benar kata Abdul: kamar Sri adalah enak.

Sri dengan pandangan yang tidak biasa mulai kembali ke ruang tamu, yang artinya Aku tidak bisa melihatnya lagi. Tapi beruntungnya aku bisa mendengarkan mereka bicara dan tertawa bersama. Aku mencintaimu, aku juga mencintaimu. Kata-kata itu keluar dari mulut mereka berdua. Aku terkadang berifkir apakah itu benar-benar cinta? Mengapa mereka tidak menikah saja?

Hari-hari selanjutnya mereka –Sri dan laki-laki berkumis- melakukan hal yang sama dan terus berulang. Seandainya saja aku bisa merubah diriku menjadi manusia, mungkin aku akan memerhatikan mereka lebih dalam. Tapi, mau bagaimana lagi, aku hanya tinggal di aquarium ukuran 30cm x 30cm dengan rumput sintetis yang tidak bisa melihat lebih luas apapun yang terjadi. Terkadang jika aku berpikir seperti itu, aku memilih untuk menjadi ikan cupang saja yang ada di aquarium dan disayang oleh semua orang daripada harus melihat sisi lain dari manusia yang tak pernah kuketahui.

Setiap pagi dari kejadian Sri dan laki-laki berkumis yang sudah tidak pernah terlihat lagi, Aku lebih diperhatikan oleh Sri. Bahkan ia sering sekali menamakanku dengan nama laki-laki itu. Mbul, ya Mbul namanya. Apa ini juga sifat manusia yang suka berkhayal dan bermimpi bahwa ikan bisa menjadi manusia seperti laki-laki itu? Mungkin saja.

Setiap kali Sri memainkanku, Ia selalu terbaring di atas kasur kamarnya dan terkadang berbicara kepada langit-langit seperti langit-langit itu dapat bicara kepadanya. Pada saat yang sama Abdul datang dengan baju yang begitu kotor. Aku menduga itu adalah lelehan es krim yang tak sempat Ia habiskan. Aku mulai kelelahan setelah hampir seharian Sri memainkanku dan memegangku dengan tangannya yang cukup besar itu. Abdul melihatku yang sedang kelelahan, menatapku yang mulai tak bergerak, dan mencedokku dengan gelas plastik. Ia membawaku menuju kamar mandi. Pada saat ia membuka pintu, ia berbalik arah dan membuangku ke selokan.



2 comments: