Kesalahan pertama untuk dikatakan sebagai seorang penjahat oleh laki-laki adalah dicintainya. Apapun alasannya, perempuan seperti kita adala...

Cukup....!!! Jangan Berharap Padaku

Kesalahan pertama untuk dikatakan sebagai seorang penjahat oleh laki-laki adalah dicintainya. Apapun alasannya, perempuan seperti kita adalah seorang penjahat. Kesalahan kedua adalah terlahir menjadi perempuan yang dicintai, bukan mencintai. 

Pagi ini Aku bingung dengan apa yang terjadi setelah sekian lama bertemu denganmu di depan kantin sekolah itu. Aku duduk bersamamu, saling memandang malu, memakan satu demi satu aci goreng yang sudah sama-sama kami pesan. Jujur, waktu itu Aku ingin sekali banyak bicara padamu perihal hubungan kita, namun aku berpendapat bahwa menyembunyikan pertanyaan lewat senyuman adalah hal yang terbaik.

Dengarkan: Kita memang saling menyukai, bukan berarti mencintai. Jangan lagi berharap banyak padaku, karena Aku tidak ingin terlalu terburu-buru.


Aku selalu ingat pertemuan pertama kita hingga hari ini. Jika Aku boleh jujur, Kamu adalah laki-laki yang paling baik yang pernah Aku temui. Tapi, sebagai seorang perempuan, Aku harus berpikir panjang untuk menetapkan pilihan dan memberikan hatiku padamu. Mungkin menurutmu akan sangat mudah, tapi untuk kaum perempuan sepertiku, ini adalah salah satu hal yang paling sulit ditetapkan.

Sejak Aku mengenalmu, Aku tahu bahwa Kamu sangat terkenal di kalangan para perempuan. Bahkan, temanku, Rahma sudah menyukaimu sejak awal bertemu. Tak hanya Rahma, tapi masih banyak perempuan yang tergoda oleh sosokmu yang menawan, kecuali Aku. Mungkin mereka bisa tergoda, tapi, jujur, hingga saat ini perasaanku biasa saja kepadamu.

Mungkin Kamu bertanya-tanya apakah Aku telah mencintaimu setelah hari-hari kemarin kita lalui bersama dan kedekatan kita semakin intens. Kebersamaan yang terbangun diantara kita memang menumbuhkan rasa simpatiku, tapi sangat sedikit. Kamu mungkin ingat ketika Aku memintamu untuk menjemputku di Rumah dan memintamu untuk mengajakku jalan ke tempat yang asik. Masih ingat? Kita membahas banyak sekali topik dan tak pernah habis hingga Kamu mengantarkanku ke rumah kembali. Tidak hanya itu, masih ingat ketika kita sering sekali ngobrol via telpon dari malam hingga pagi hari? Masih? Ya mungkin semua itu adalah penghargaan atas perasaanmu, karena Aku berharap kita tidak pernah lebih dan mengalir begitu saja.

Aku masih sangat ingat ketika Kamu begitu memerhatikanku, mulai dari kesehatan hingga akademik-ku. Bahkan Kamu sering menuntut ini dan itu untuk masa depanku yang lebih baik, dan tak jarang juga Aku sering meminta saran darimu. Aku tahu, Aku tahu kau mencintaiku, tapi, hingga saat ini Aku tidak pernah memberimu garansi atau janji bahwa kita akan terus bersama dan Aku mencintaimu seperti Kamu mencintai Aku.

Banyak orang yang bilang kepadaku bahwa Aku adalah perempuan yang paling beruntung di muka bumi ini karena bisa mendapatkanmu. Jujur, ketika mereka bilang seperti itu, aku hanya bersikap biasa dan terkadang berpikir bahwa itu sangat berlebihan karena yang aku rasakan tak lebih jauh dari anak kecil yang baru saja belajar keluar rumah. Apapun kegiatanku, Aku harus melaporkannya kepadamu, tak jarang juga aku tak melaporkan karena itu privasiku, tapi Kamu begitu marah karena takut ada hal yang terjadi padaku nanti. Ah itu sangat menyebalkan karena Kamu pikir aku sudah sepenuhnya milikmu? Terlebih jika Kamu berada di dekat temanmu, Kamu selalu memamerkan diriku. Itu sungguh menyebalkan.

Menurutku, Aku masih sangatlah muda untuk bergelut di dunia seperti itu. Kamu tahukan? Mimpiku masih banyak yang belum tercapai dan harus segera aku capai sedikit demi sedikit. Selain itu, Aku masih punya keluarga yang mencintaiku dengan setulus hatinya dan Aku sangat menyayangi mereka. Jika menurutmu cinta itu yang Kamu jadikan prioritas utama dalam hidup hingga kau berani mempertaruhkan hidupmu untukku, apakah Kamu tidak akan menyesal jika nanti impian dan harapanmu hilang begitu saja?

Aku harap Kamu mengerti tentang ini.

Dengan adanya tulisan ini, Aku berterimakasih dengan semua yang telah kamu berikan. Waktu, uang, tenaga, pikiran, hingga hubungan dengan orang lain yang tak mungkin aku mengetahuinya karena itu kehidupanmu. Aku juga menyarankanmu untuk tidak terlalu berharap terhadap apapun, masih banyak sekali yang harus kita cari dan kita pelajari.

Dengarkan: Hingga saat ini, hingga aku bilang aku mencintaimupun (mungkin), belum tentu kita akan menjalin cinta hingga akhir hayat. Kita belum tentu bertemu di pelaminan, kita belum tentu bertemu di kamar kita, kita belum tentu. Semuanya titipan, titipan tuhan dan tuhanlah yang mengaturnya. Tolong bertingkah sewajarnya, sebagaimana aku pernah mengisi hari-harimu, sebagaimana kita sebagai seorang sahabat.

Dari aku - yang pernah bilang kepadamu bahwa aku tak pernah menjanjikanmu apa-apa via chat.


2 comments: