Seperti biasa, jika malam tiba aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Menikmati pemandangan kamarku yang setiap mi...

Pesan Singkat

Seperti biasa, jika malam tiba aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Menikmati pemandangan kamarku yang setiap minggu berganti dekorasi, membuatku merasa nyaman bila berada di dalamnya. Buku yang berada di dinding dengan topangan sebuah kayu bekas buah, tanaman kaktus dalam ruangan yang kata sebagian orang bisa menjadi tambahan oksigen, gitar yang selalu ada di sudut kamarku, poster liverpool di belakang pintu, dan tak lupa ada vas bunga kosong yang ada di meja belajarku yang berantakan. Aku sengaja tak mengisinya karena aku ingin bunga yang mengisinya adalah bunga yang sesuai dengan imajinasiku.

Malam ini, sebenarnya aku sedikit ingin bernostalgia tentang percintaanku dengan lelaki yang dulu pernah aku yakini sebagai suamiku namun itu tidak kesampaian.

Seperti biasa, aku menghabiskan beberapa pekerjaan sebelum Pukul 22.00 WIB alasannya sederhana karena aku tidak ingin waktu krusial yang sepi ini diganggu oleh beberapa kegiatan, terutama kegiatan yang membuatku kesal. Malam ini aku memutuskan untuk pergi mengunjungi ikan-ikan laut sebagaimana dulu pernah aku lakukan dengan pacarku. mengunjungi ikan laut terkadang sudah menjadi hal yang harus dilakukan ketika kami kencan, selain ciuman tentunya.

Terkadang jika situasi seperti ini sedang terjadi, aku membayangkan bagaimana jadinya jika ia kencan dengan wanita lain. Apakah akan melakukan hal sama dengan apa yang dilakukannya denganku? Apakah ia akan mengajak wanita itu kencan mengunjungi ikan? Atau mengajaknya belanja ke mall? Atau sesekali diajak bermain wahana di dufan? Atau mengunjungi ikan di dufan sambil berbelanja? Ah peduli amat tentang mereka.

Aku terkadang jadi berpikir kenapa kami dulu bisa bersama, padahal kami tidak mempunyai kesamaan sedikitpun. Aku sangat suka dengan ilmu bela diri, sedangkan pacarku menyukai syair dan puisi. Sangat yang bertolak belakang bukan? Atau mungkin karena referensi beberapa teman yang juga punya pacar seorang penyair aku bisa menerimanya? Karena yang aku tahu, penyair tak sesuai dengan yang diinginkan perempuan, ia hanya akan menulis sesuai dengan mood-nya. Mereka sebenarnya bisa menulis tentang wanitanya dengan kalimat romantis, menuliskan nama pacarnya dalam buku atau tulisannya, membuatkan video romantis dari terbit dan terbenamnya matahari. Mungkin seperti itu. Tapi, yang terjadi tak sesuai dengan yang aku bayangkan. Mau bagaimana lagi?

Aku menjalani hubungan dengan pacarku lebih dari 3 tahun sampai akhirnya kami putus. sejak kami SMA, aku memang sudah mengenalkannya kepada keluarga. Takut-takut ada yang terjadi kepadaku, orangtuaku tahu akan mencari informasi ke siapa. Selain itu, jika aku ditanya kapan menikah, aku akan dengan gampang bilang "Tanya saja calon suamiku".

Perjalanan 3 tahun kami pacaran yang menurutku sebentar ini kami habiskan untuk hal yang monoton sekali seperti: tertawa bersama, makan bersama, jalan bersama, telponan hingga larut malam, boncengan mengililingi kawasan, atau menonton film. Untuk apa aku punya pacar hingga lama seperti itu padahal aku bisa melakukannya bersama teman? Apa untungnya? Ya ampun, bodohnya diriku.

Perihal kebodohan, temanku pernah berkata "setiap orang yang saling cinta dengan lawan jenisnya, maka ia akan jadi orang tergoblog di dunia". Aku pernah percaya tentang hal ini ketika aku sedang berada di rumah sendirian dan pacarku dengan cepat menemuiku padahal waktu sudah sangat larut. Sungguh bodoh. Tapi, aku juga tidak percaya itu karena pernah suatu ketika aku sedang kesulitan dalam mengerjakan tugas, ia datang membantuku dengan jawaban yang menurutku sangat super sekali, dan apapun pertanyaanku pasti ia bisa menjawabnya. Ya aku tidak percaya kalau dia goblog.

Sebenarnya malam ini aku sangat malas untuk melakukan apapun, bahkan untuk menengok kearah samping saja aku tidak ingin.
Malam ini sangat dingin, udara laut sedang kencang berhembus, ombak-ombak mulai besar menuju pinggiran pantai, dan purnama bersinar dengan terang. Aku jadi ingat pesan pacarku ketika purnama datang dan kami sedang tidak dalam satu tempat yang sama "Kamu lagi di mana? Coba keluar deh, Bulannya cantik. Aku melihatnya tersenyum padamu".

Ah sial, aku kembali lagi mengingatnya.

Aku memutuskan untuk pulang karena menurutku cuaca sudah tidak mendukung dan aku harus bekerja besok pagi. Aku pulang dengan pikiran tentang dia dan masa lalu, hingga akhirnya cerita ini dihentikan oleh pesan singkat dari seseorang yang tertulis jelas: "Coba liat ke jendela, di langit ada aku sedang tersenyum untukmu"

Sungguh sial!!



0 komentar: