Aku paham, ketika umur sudah menginjak angka 20 tahun ada beberapa pertanyaan yang setiap kali akan datang dan itu terlalu rumit untuk dijaw...

Cerpen: Kehendak Pernikahan

Aku paham, ketika umur sudah menginjak angka 20 tahun ada beberapa pertanyaan yang setiap kali akan datang dan itu terlalu rumit untuk dijawab. Salah satunya adalah pertanyaan "kapan nikah?". Sedari awal, aku tahu bahwa setiap pernikahan itu tidak semuanya dilandasi oleh cinta. Ada banyak sekali alasan yang membuat mereka menikah tanpa adanya cinta, dan salah satu yang merasakan hal itu adalah aku.

Pernikahan yang terjadi padaku sungguh tak direncanakan sama sekali dan aku harus jujur pada diri sendiri bahwa ini adalah salah satu perbuatan terbodoh yang pernah ku perbuat. Dulu, ketika aku sudah mengerti tentang pernikahan dan rumah tangga, aku bersikukuh bahwa apapun boleh terjadi di luar skenarioku, kecuali pernikahan. Aku boleh gagal dalam studi, pekerjaan, karir, pertemanan, tapi aku tidak boleh gagal dalam hal pernikahan.

Sejak dulu, aku cukup hati-hati dalam memilih pasangan, bahkan jika dihitung aku baru 2 kali merasakan pacaran. Yang pertama saat aku SMA dan yang kedua adalah saat aku kuliah di semester 3 hingga semester 7. Walaupun kami sudah tidak bersama, laki-laki inilah yang akhirnya aku yakini akan menjadi suamiku kelak, membangun rumah tangga, mempunyai anak, dan hidup bahagia.

Hidup memang terkadang mengejutkan, tapi aku yakin bahwa ada tangan tuhan yang akan menuntun kami jika memang berjodoh. Hidup terus berlanjut, dunia percintaan terus berkembang, hadir laki-laki ketiga, keempat, kelima yang menjadi kekasihku selanjutnya, hingga yang keenam adalah laki-laki yang akan menikahiku esok hari. Laki-laki yang akan mengucapkan janji suci yang sebenarnya tidak pernah aku kehendaki.

***

Hari ini adalah hari pernikahanku, semua orang berbahagia, aku? Seharusnya kau sudah tahu jawabannya. Aku duduk di kursi pelaminan yang didesain sedemikian rupa agar menyampaikan pesan bahwa semua yang hadir pada hari itu adalah orang yang berbahagia, begitupula aku, pikirnya. Ribuan tangan datang silih berganti menggenggam tanganku sambil mengucapkan kata selamat, memberikan wejangan, dan beberapa orang mengucapkan doa sambil menginjak kakiku--katanya agar cepat dapat anak. Dalam situasi seperti ini, aku masih saja tertunduk lemas merasakan beberapa lantunan lagu dan doa yang didengungkan oleh saudara-saudaraku. Sesekali aku memberikan senyum ketika menerima tamu dan berusaha untuk tidak terlihat sedih pada hari yang bagi sebagian orang adalah hari bahagia.

Pesta hampir selesai, semua tamu mulai pulang ke rumahnya masing-masing, hanya saudara-saudaraku saja yang tersisa. Kursi diangkat, panggung mulai dipreteli, dekorasi mulai dimasukan ke dalam kotaknya seperti semula, sementara Suamiku? Iya sibuk memandangiku. Aku bertanya padanya apakah ia bahagia menikahiku pada hari ini, jawabannya sangat menohok: hari ini adalah sesuatu yang sudah lama ia idam-idamkan, akhirnya tercapai. Aku tersenyum sambil menyimpan dada yang sesak namun tidak terisi oleh perasaan apa-apa.

Pintu kamar pengantin terbuka lebar, Suamiku mengajak agar aku segera masuk ke dalam kamar. Aku mulai membayangkan apa yang akan terjadi setelah aku masuk. Apakah aku akan menemukan neraka terlebih dahulu sebelum aku meninggal? Sama seperti orang-orang yang menikah tidak dengan rasa cinta?

Ia merayuku, ia mengatakan bahwa hari ini aku sangat cantik. Aku tahu itu hanya rayuan gombal para laki-laki. Aku hanya dingin, merespon sesuai dengan yang ia inginkan, tapi dalam hatiku selalu sesak. Semuanya hanya kebohongan belaka. Malam ini selesai, ia mengatakan kalau aku seperti bidadari yang turun dari kahyangan dengan wajah puas dan lemas. Sementara aku, aku masih mencoba merespon dengan dingin apapun yang keluar dari mulut dan apapun perlakuannya. Aku melihatnya sudah lelah, aku mencoba untuk tidur dan menenangkan diri sejenak bahwa hari ini sudah terjadi dan tidak bisa terulang kembali.

Dalam renunganku malam ini, aku berpikir bahwa bukan hanya aku saja yang menikah tanpa cinta, bukan? Apakah mereka merasakan hal yang sama denganku malam ini? Ah malang sekali nasib mereka.

***

Hari pertama pernikahanku sudah selesai, puluhan kata selamat dan bahagia datang silih berganti melalui pesan singkat. Isinya mengucapkan turut berbahagia atas pernikahanku dan mengatakan bahwa aku sangatlah cantik malam itu. Jujur, aku bosan dengan ucapan yang diberikan oleh beberapa kerabat yang menurutku biasa saja. Satu pesan singkat masuk ke hpku ketika aku ingin melemparnya. "Kamu tega sekali" begitu isi pesannya.

Aku gemetar, semua badan mulai dingin, mataku berkunang-kunang mulai mengeluarkan air mata, tangan serasa sudah tidak sanggup menggenggam. Aku berprasangka, apakah ia datang pada hari pernikahanku? apakah ia masih mencintaiku seperti saat kuliah dulu?

Hidup sudah terlanjur dan sudah tidak bisa berbalik arah. Hidup hanya sebatas menjalani dan berlari dari kesepian setiap saat. Dan aku hari ini, tidak sedang ingin berharap pada satu perselingkuhan. Aku juga tidak yakin akan sanggup bersua denganmu dengan keadaan seperti ini, apalagi pada pertemuan kita kau mengatakan: kamu tega sekali....


0 komentar: