Hari ini aku percaya, musik bisa membuat hati terasa tentram. Mendengarkan setiap alunan nada yang menyatu dengan indah menjadi terapi terse...

Musik, dan Peredam Suara yang Terabaikan

Hari ini aku percaya, musik bisa membuat hati terasa tentram. Mendengarkan setiap alunan nada yang menyatu dengan indah menjadi terapi tersendiri bagi aku dan mungkin bagi orang lain juga. Musik terkadang menjadi teman saat semuanya berlalu, terkadar menjadi penolong dari bisingnya kendaraan umum, bisingnya jalanan, atau bisingnya panggilan usil dari kehidupan jalanan.

Dibalik kesetiaan musik, ada kalanya ia juga tak dibutuhkan. Karena bagaimanapun, penggunaan headset cenderung mendorong orang untuk bersikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitar. Yang lebih parah lagi, terkadang kita dapat melewatkan sesuatu yang menarik yang terjadi saat itu di sekitar kita.

Kalau boleh jujur, aku termasuk orang yang suka memerhatikan meski suka bercanda. Karena hobi memerhatikan ini, Terkadang aku terbawa kepada cerita-cerita yang beredar di perjalanan. terkadang cerita-cerita tersebut di dapat secara sengaja atau tidak sengaja.

****

Hari ini, aku tidak lagi berada di jalanan. Namun, aku berada di suatu tempat di mana banyak sekali cerita yang dapat aku dengarkan dari beberapa teman di sini. Mulai dari kisah asmara, hingga kisah yang menyangkut keluarga.

Pernah suatu ketika, ada seorang teman yang mulai bercerita tentang kisah asmaranya kepadaku. Kisah seorang anak muda yang mencoba untuk sama-sama merasakan indahnya mencintai dan dicintai, tapi gagal karena jarak yang memisahkan mereka.

Sebagai orang yang tidak terlalu expert di bidang ini, aku hanya mendengarkan dan sedikit menjawab sesuai dengan apa yang aku ketahui. Waktu terus berlalu, cerita yang dibahas masih juga sama, perihal cinta. Sampai akhirnya ada panggilan masuk di smartphone temanku. Berkali-kali nomor itu menghubungi, namun tak sedikitpun ia peduli dengan nomor itu.

Aku yang penasaran mencoba menghasutnya untuk mengangkat panggilan itu. Ia mengangkatnya, dan kalimat pertama yang aku dengar adalah, “Apa lagi yang mau kamu jelasin sama aku?” dan ia mulai meninggalkanku sendirian dengan tujuan agar pembicaraan mereka tidak ada yang mendengar.

Aku dan beberapa orang di Indonesia mungkin akan berpikir bahwa ucapan di awal adalah sebuah tanda bahwa akan berakhir dengan tidak baik, seperti yang ada di sinetron.

15 menit telah berlalu, namun ada satu kata yang selalu diucapkan temanku "uda, ga usah hubungin lagi, uda selesai semua kan?"

Ia mematikan teleponnya, menjauhkannya dari kami, dan setiap kali ada telepon masuk ia selalu sigap untuk mengangkatnya.

Ia melanjutkan, bahwa ia masih sayang dengan kekasihnya yang jauh, namun karena jarak yang memisahkan mereka, jadi harus segera diakhiri.

Ah, Manusia. Makhluk yang unik dengan segala keputusannya.

* * *

Terkadang jika aku berada di kesepian seperti ini, Dunia seakan ingin bercerita denganku. Tapi tetap saja, aku sadar, aku masih sendirian menikmati musik ini dengan kerasnya.

Dunia memang tidak bisa diprediksi sesuai dengan apa yang ada di kepala kita.Bahkan, hingga saat ini kita masih bingung untuk memilih menutup kuping dan hanyut dengan dunia kita sendiri, atau kita membuka terlinga dan mendengarkan semuanya hingga lupa menyendiri. Dunia memang pilihan, pilihan untuk orang-orang yang merdeka untuk memilih kenyamanannya sendiri.

Aku suka memerhatikan dan mendengarkan cerita, apalagi dengan dunia baru yang memang belum pernah aku temui sebelumnya. Cerita yang datang terkadang menampilkan coraknya sendiri bagi kehidupanku yang monoton. Ada yang bisa diterima, ada juga yang bisa ditinggalkan dan musik sebagai peredamnya. Karena aku percaya, di dunia ini pasti ada suara-suara yang pantas untuk diabaikan.

Dermaga Timur Pulau Tunda 
15 September 2018
Ditemani Lagu Jalang - Efek Rumah Kaca


0 komentar: