Pertemuanku dengan Tantri saat festival layang-layang adalah perjalanan yang menurutku akan mengasyikkan jika dijalani. Sosok Tantri yang be...

Sepertinya Dia #4

Pertemuanku dengan Tantri saat festival layang-layang adalah perjalanan yang menurutku akan mengasyikkan jika dijalani. Sosok Tantri yang begitu detail mengenalku saat dulu, membuatku yakin bahwa ia adalah wanita yang selama ini mengagumiku walaupun aku tidak begitu mengenalnya. Tapi aku yakin akan pertemuan yang direncanakan oleh tuhan. Pertemuanku dengan Tantri bukan tidak mungkin tuhan ingin memberiku hadiah yang lumayan spesial.

Hari berganti, saku celanaku belum sempat aku buka, padahal di sana ada selembar kertas yang menurutku sangat krusial yang mungkin bisa menentukan masa depanku.

Tepat hari ini, aku berganti umur, umurku berkurang, aku bertambah tua, orang tua semakin menjadi-jadi memaksaku agar segera menikah. Aku sadar, memang sudah saatnya.

****

0812-xxxx-xxxx

"Halo, selamat pagi. masih ingat?" Pesan pendek pertamaku untuknya.

Aku menunggunya membalas, sambil memandangi sudut kamarku yang penuh dengan foto kenangan-kenangan masa lalu.

"Hai, akhirnya kamu menghubungiku. Kemana saja kau selama 2 hari ini"

"Masih sama. Melamun, melamun, melamun, bermain"

"Dasar! huhuhuhuhu. Eh tapi melamunmu bermanfaatkan? aku kan uda lama ga tau kebiasaanmu"

"Jauh dari kata bermanfaat sih. Aku pernah melamun soal bagaimana caranya agar permen karet bisa diolah menjadi ban kendaraan. Aku juga pernah melamun bagaimana bisa mengetik dengan 11 jari. Aku juga pernah melamun, bagaimana caranya bisa berbicara dengan semut. Ya seperti itulah"

"ORANG GILA...!!!!! hehehehhe"

"Tapi ini beneran loh"

"Terserah kamu deh. hehehehe"

Sejak perbincangan awalku dengan Tantri di pesan pendek itu, aku menjadi sangat yakin Tantri adalah orang yang selama ini aku cari. Dia sosok yang menurutku sangat menghargai orang, walaupun itu dipaksakan, tapi usahanya tentang itu harus dihargai sebesar-besarnya.

Hari-hari berlalu, kedekatan kami pun semakin menjadi-jadi. Bahkan, Tantri tidak segan untuk mengenalkanku kepada beberapa saudaranya. Mungkin ini adalah satu tanda bahwa jika suatu saat aku melamarnya, semua keluarga sudah mengenalku dan ini menjadi sangat mudah untuk mendapatkan restunya.

"Bro, kalau uda dikasih kode kaya gitu langsung aja bro. Hajar!1!1!1!"

"Kayanya belum waktunya deh"

"Ko bisa?"

"Ya, karena aku baru kenal"

"Lah dia teman SD-mu"

"Ya, tapi dalam proses dia sampai dewasa aku ga tau apa yang uda dia lewati. Toh, aku juga perlu informasi itu kan?"

"Tabik. Ya, kamu perlu itu bro. Coba cari tahu, nanti aku juga bantu"

Semakin aku merasa bahwa Tantri adalah yang terbaik, semakin aku merasa bahwa aku harus mengulur waktu. Entah. Aku bingung dengan perasaanku sendiri akhir-akhir ini. Aku menghabiskannya dengan berdiam diri, menikmati kesendirian dengan beberapa gambar yang membuat memoriku memutar. Aku takut apa yang telah terjadi bisa terulang kembali dan membuatku paham bahwa percintaan itu sebenarnya hanya ada dalam pikiran kita, imajinasi kita. Tidak nyata. Karena cinta bisa membuat orang lupa akan segalanya, menganggap bahwa dunia hanya milik berdua, bahkan saling tatap-tatapan adalah hal yang romantis. Padahal, semua itu hanya biasa saja.

"Hay. Bagaimana kabarmu? Aku ingin bertemu" aku mencoba menghubungi Tantri

"Halo... Ko tumben?"

"Bisa? Kalau bisa aku jemput sekarang"

"Oke, aku siap-siap dulu"

Aku menjemput Tantri di rumahnya dengan menggunakan motor bututku. Aku berencana mengajaknya untuk ngopi di warung pakde Danu. Karena menurutku di sana adalah tempat yang spesial dan bahkan setengah dari memori dalam hidupku yang masih ada terjadi di tempat ini.

Ketika aku sampai, Tantri tampil dengan pakaian terbaiknya. Sesuai dengan warna yang ia sukai, yaitu ungu. Menurut beberapa orang, ungu adalah warna janda. Tapi, ketika Tantri yang memakainya, warna ungu menjadi sangat sporty. Entah menurutku saja atau banyak orang yang berpendapat sama denganku.

Kami jalan, aku membonceng Tantri.

"Kita mau kemana?"

"Aku mau ngajak kamu ngopi"

"Oh ngopi. Dimana? Starbuck?"

"Bukan. Aku mau ngajak kamu ngopi di warung pakde Danu"

"Dimana itu?"

"Dekat toko buku Pojok Jalan. Tahu?"

"Belum pernah sih"

"Ya sudah. Habis ini berarti pernah"

"Ah kamu. Bisa aja becandanya. heheheheh"

Kami berdua sampai di warung pakde Danu. Seperti biasa, aku memesan kopi yang normal, tidak pahit, tidak manis.

"Kamu mau mesan apa?"

"Oh aku teh aja"

"Oke"

Aku memesankannya ke pakde Danu.

"Oiya, kok kamu tiba-tiba ngajak aku ke sini? tumben banget?"

"Aku punya perasaan, kok kamu kayanya mau bilang sesuatu yah"

"hehehhe. Tau aja kamu"

"Beneran? hahahaha. Padahal aku asal nebak. Yo wiss, kamu mau bilang apa?"

"Sebenernya gini, kamu tahukan umur kita berdua berapa? Nah aku terkadang pusing dengan ocehan orang tua yang ingin aku segera menikah"

"Lalu?"

"Ya aku pingin banget. Siapa yang ga pingin. Tapi, selama perjalanan hidupku, aku ga pernah ketemu sama laki-laki yang tepat. Pasti ada kurangnya"

"Sik. Setiap orang pasti punya kekurangan kan?"

"Iya. Tapi terkadang aku ga nyaman. Nah, niatku, karena kita sudah sama-sama kenal dan berteman sejak lama, aku ingin mengajakmu menikah"

"Secepat itu? Aku belum menyiapkan mahar loh"

"Aku ga perlu mahar. Yang penting aku nyaman. Cukup."

"Sik yah. Kamu ga sakit kan?"

"Ya ga mas. Aku serius"

Aku mulai diam. Memandang wajahnya yang penuh harap dan menyenangkan itu.

"Oke. Aku juga sadar dengan umurku, aku pasti suatu saat akan menikah. Tapi, kasih aku waktu setidaknya untuk berpikir atau untuk mempersiapkan yang terbaik"

Tantri pergi, tidak meninggalkan apapun. Nampaknya ia kesal dan kecewa. Bahkan, teh yang sudah dibuatkan oleh pakde Danu tak sempat ia nikmati.

Aku mulai kosong, tak ada satupun yang bisa aku pikirkan. Aku mencicipi kopi pakde Danu yang terkadang bisa mengobatiku dari semua rasa pahit atau rasa hambar yang aku rasakan pada saat itu. Aku mulai tenang.

Jalan pulang, aku memikirkan semua tentang Tantri. Ia wanita yang menarik, pintar, tapi aku belum yakin 100% bahwa ia adalah yang terbaik untukku. Percaya akan pepatah "Jodoh adalah cerminan diri" membuatku semakin rusak. Rusak perasaanku, rusak rasaku. Semuanya rusak.

Aku melihat dalam-dalam diriku, seorang yang amburadul, tidak punya apapun selain diri sendiri untuk bercerita. Bisakah aku bersanding dengan Tantri yang punya segalanya? Ah rasanya memang belum saatnya.

Seminggu berlalu, tak ada Tantri dalam hidupku. Tak ada orang di sampingku. Aku sendirian, ditemani dengan pikiran-pikiran kacau yang datang silih berganti. Aku sudah cukup kecewa dengan apa yang aku lakukan selama ini. Ketika aku dapatkan wanita yang baik, aku belum siap untuk menerimanya. Apalagi orangtuanya.

Selama ini, Tantri hanya berani mengenalkanku dengan saudaranya saja. Yang menurutku orang yang cuek dengan keputusan Tantri karena mereka memang bukan orang yang akan diuntungkan atau dirugikan oleh hubungan kami. Orangtua Tantri, sampai saat ini belum mengetahui hubungan kami. Aku takut, ketika mereka tahu, kami tidak diizinkan karena bisa jadi status sosial kami berbeda.

"Hay. Apa kabar?" aku mencoba menghubunginya, namun tidak ada satupun balasan dari Tantri

"Aku sadar, kita ini berbeda, rasa-rasanya pun orangtuamu tidak akan setuju. Apalagi dengan statusku yang seperti ini"

Tantri masih diam, padahal tertera keterangan bahwa ia sedang aktif.

Typing.......

Typing.......

Typing.......

Aku menunggunya. Tapi tidak ada satu katapun yang muncul dalam notifku. Mungkin ia juga sedang kacau. Maafkan aku. Tantri.



0 komentar: