Rabu. hari yang cukup cerah di bulan Juli ini, banyak mengisahkan cerita yang mendalam dari beberapa orang yang aku temui. Di jalan, di pasa...

Wrekodara: Media Sosial Itu.....

Rabu. hari yang cukup cerah di bulan Juli ini, banyak mengisahkan cerita yang mendalam dari beberapa orang yang aku temui. Di jalan, di pasar, di angkutan umum, di dunia maya dan masih banyak lagi. Dari banyaknya cerita yang aku terima, ada cerita yang menurutku baik untuk dibagikan kepada kalian para pembaca gabut.

Wrekodara. Seorang freelance atau anak-anak jaman saiki menyebutnya dengan pengangguran yang punya pekerjaan tidak tetap. Sosoknya yang santai namun suka makan ini, punya banyak sekali pengalaman yang membuat ia tidak pernah kehabisan cerita yang bisa dibagikan denganku. Apalagi jika sedang bercerita disuguhkan makanan, pasti bisa 1x24 jam wajib lapor ceritanya.

Beda Patrick, beda Wrekodara, mereka dua orang yang menurutku sangat berbeda. Wrekodara punya pengalaman perihal kehidupan, sedangkan Patrick dengan dunia percintaannya. Uh lengkap sudah hidupku punya dua teman yang bisa diajak ngobrol sesuai dengan tema yang sedang aku ingin ceritakan (bahasa Selandianya: curhat).

Pada cerita kali ini, aku akan membagikan mengenai pengalaman Wrekodara. Pengalaman apa itu? Pengalaman yang tentunya sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai anak jaman saiki.

Wrekodara terkadang pusing dengan kehidupan yang sedang dijalani oleh anak jaman saiki, memainkan media sosial sesuka hati, suka menyalahkan, suka merasa benar. Apalagi sekarang, peranan arus informasi kita yang sudah dikuasai oleh jurnalis-jurnalis jalanan yang siap memberitakan atau membagikan apapun yang menurut mereka "harus" dibagikan tanpa melihat efek dan siapa yang akan menerimanya. entah motif lucu-lucuan atau hanya sekedar berbagi.

Dulu, media sosial digunakan untuk sekedar mengetahui kabar teman yang bisa dihubungi tanpa harus ribet mencari nomor telephonen-nya. Sekarang, jaman sudah berganti kearah yang lebih baik, namun tidak baik bagi orang yang tidak mencari perbandingan dari berbagai sumber mengenai pemberitaan itu.

Dulu, Media pemberitaan mainstream digunakan sebagai media utama dalam pemberitaan. sekarang, media mainstream sudah berganti fungsi menjadi media perbandingan dengan penyebar informasi utamanya adalah media sosial. Apalagi sekarang, media mainstream sudah banyak yang mengarahkan informasi sesuai dengan kepentingan kelompoknya masing-masing, jadi cukup jadi pembanding aja. Ah mumet aku.

Selain sebagai pemberi informasi utama, media sosial juga sekarang sudah bergerak kearah pembentuk opini, di sana tidak berlaku adanya hukum "benar atau salah", tapi yang dikenal adalah hukum "siapa yang kuat, banyak pendukung, siapa yang kuat dalam membentuk opini pengguna media sosial lain, dialah yang menang". yeaayyy

Ini pula yang menyebabkan kemunculan buzzer dan influencer makin banyak di jagat media sosial kita sekarang. Tapi, tolong bedakan kembali tentang influencer dan buzzer. Influencer adalah orang yang mempunyai pengaruh di media sosial, menulis karena memang ada rasa "ingin". Sedangkan Buzzer adalah orang yang dibayar untuk menulis dan memviralkan sesuatu, menulis karena memang ada rasa "harus". Tolong bedakan.


Berdasarkan data Internet World Stat, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 130 juta, dan berada di peringkat ketiga pengguna global sesudah India dan AS. Sedangkan di Twitter, Indonesia masuk sebagai negara pengguna terbanyak ke lima di dunia. Bisa dibayangkan berapa banyak buzzer dan influencer yang ada? Ah aku ra urus.

Ngomong-ngomong tentang media sosial, hampir setiap hari kita melihat komen dari netizen yang bisa saja lucu-lucu atau bisa saja bisa mengernyitkan dahi kita juga, apalagi setelah kasus kemarin tentang "Ask me question". Rasa-rasanya aku akan mengubah hobi dari mainstream seperti: menulis, membaca, memancing, menggambar, menjadi anti mainstream: melihat komentar netijen.

Maha benar netizen dengan segala komentarnya.

0 komentar: