Aku masih terbaring di atas kasurku setelah melewati malam yang membosankan. Di kamar ini, aku menghabiskan pagi dengan memerhatikan beb...

Selamat tinggal, Dinda #1


Aku masih terbaring di atas kasurku setelah melewati malam yang membosankan. Di kamar ini, aku menghabiskan pagi dengan memerhatikan beberapa sudut ruangan yang menurutku cukup sesak dengan barang-barangku maupun barang titipan teman yang sering bermalam di sini. Langit-langit yang mulai menguning akibat terkena bocoran hujanpun tak lepas dari pandanganku. Tak ketinggalan juga dengan cat dinding yang sebagian besar sudah terkelupas akibat tidak pernah dicat ulang dan seringnya orang bersender di sana.

Di sudut ruangan, bertumpuk beberapa koleksi bukuku yang terkadang bisa membunuh rasa sepiku ketika rasa sepi itu datang. Tepat di sebelahnya ada sound system yang kubeli di pasar barkas senen ketika aku mulai merasa bahwa kamar ini terasa sepi. Tujuannya hanya satu, aku bisa menyalakannya keras-keras ketika aku mulai merasa bosan dengan kegiatan harianku.

Hari ini, aku merasa tidak seperti biasanya. Sepi, kosong, tidak ada suara sedikitpun kecuali percikan air dari keran yang bocor tepat di sebelah kamarku. Aku diam, memerhatikan seluruh ruangan yang sesak ini, dan tak tahu kenapa sampai akhirnya mataku jatuh pada sebuah bingkai foto di atas lemari. Ada gambar seseorang di sana. Foto itu seakan ingin bercerita, aku mencoba untuk menggali cerita apa yang sebenarnya ingin disampaikan. Pada akhirnya, aku teringat tentang satu hari dimana kita pernah bersama.

******

"Kamu ternyata beda yah." Katanya sambil memerhatikan mobil yang berlalu lalang

"Beda gimana?"

"Beda aja, aku kan baru kali ini jalan berdua sama kamu, sebelum-sebelumnya ga pernah ketemu"

"Ah perasaan kamu aja kali. Emang bedanya gimana?"

"Ini lebih asik" ia menggodaku

Aku diam. Berangan, melayang-layang.

"Dor...! Jangan geer mas"

"Oh maaf, aku tadi lagi ngitung kelinci di depan kita lagi lompat" aku membela diri.

Namanya Dinda. Tinggal di Solo. Gadis cantik, tubuhnya tinggi untuk ukuran wanita Indonesia, kulitnya putih bersih, wajahnya bulat dengan lesung pipi di sebelah kanan. Matanya sipit dengan frame kacamata agak besar seperti kacamata korea yang selalu setia bertengger di wajahnya. Bibirnya tipis dengan senyumannya yang khas.

Pertemuan kami cukup absurd, tapi tidak di era informatika seperti sekarang ini. Aku menemukannya di media sosial. Akunnya yang unik membuatku memberanikan diri untuk lebih dulu menyapanya melalui live chat yang disediakan oleh media sosial itu. Kami berkenalan, saling menyapa, hingga intens berkomunikasi setiap hari, setiap malam sebelum tidur.

Setelah banyak waktu yang kita lewati bersama tanpa tatap muka, aku mulai mengenali sifatnya dari komunikasi yang kami jalin bersama, begitupun dia.

"Aku kalau pagi memang begini, sukanya olahraga kecil-kecilan"

"Aku kalau pagi sukanya males-malesan. hahahaha"

"Ga baik tuh. mending ikut sama aku. hehehe" ia menggoda

"Ah aku orangnya memang ga suka buang tenaga, kasian kalau dibuang nanti nyariin. hehehe" aku menggodanya juga

"Oiya, 2 bulan lagi aku mau KKN nih, lumayan jauh, ada tips?"

"Ada. Hidup seperti manusia hidup"

Aku terkadang sering berpikir tentang hubungan kami, jalan seperti halnya orang yang mencintai, saling mencari informasi satu sama lain, saling menyemangati, saling bertukar pikiran, saling memberi kabar ketika ada acara, tapi, aku bukan siapa-siapa, begitupun dia. Ya sudahlah.

Ia pernah bilang kepadaku, bahwa aku adalah salah satu orang yang berpengaruh dan penting bagi hidupnya. Sedangkan hingga detik ini, aku tidak tahu apa jenisnya hubungan yang sedang aku jalani dengannya. Terlebih ia sudah memiliki kekasih sejak SMA. Abdul namanya. Mereka memang berbeda kampus sehingga mereka menjalani hubungan jarak jauh sejak SMA. Sudah lama, ya memang sudah selama itu mereka berhubungan.

Sampai saat ini, ia masih kuanggap sebagai teman dekat, setingkat di atas sahabat. Aku pernah jatuh cinta kepadanya, tapi jujur, aku tidak tega untuk sekadar jatuh cinta. Entah apa alasannya, rasa itu terlalu berharga.

"Hayo, lagi ngapain, kok cuma segitu balesnya?"

“Aku lagi nyari tips di Youtube buatmu” kataku berdalih

“Iya deh. Bisa aja ngelesnya. Hahahaha. Ngomong-ngomong, aku nanti KKNnya di Jakarta loh. Nanti Kamu anter aku yah?”

"Semoga bisa yah"

"Ah sok sibuk. Pokoknya harus! titik!" ia menegaskan.

"Siap-siap"

"Nah gitu dong"

******

Waktu berjalan cepat, rasanya aku belum punya persiapan untuk menghadapi perpisahan ini. Aku berpikir realistis, di tempat KKNnya pasti susah sinyal dan kemungkinan ia akan disibukkan oleh kegiatan-kegiatan selama itu. Malamnya, ia akan kelelahan dan dengan cepat untuk beristirahat untuk mempersiapkan hari esok. Akan semakin sulit bagi kami, bahkan sekadar saling menyapa lewat chat.

Memori yang ku coba gali sejak awal perkenalan kami, membuatku semakin ingin beranjak untuk melihat lebih dalam sosok yang ada di dalam bingkai foto itu. Kupandangi senyumnya lekat-lekat, matanya yang bersinar, lesung pipi yang manis. Semua memori seakan keluar dari matanya. Begitu lepas, menghangatkan.

Seminggu lagi adalah hari dimana ia akan menjalankan tugasnya. Hari dimana ia akan mengabdi untuk bangsa dan memenuhi baktinya untuk keluarga dan univesitas. Hari dimana seluruh kerabat mengucapkan hati-hati. Hari -yang ironisnya- mereka akan bertemu untuk kemudian berpisah.

Untukmu Dinda; Jika masih kau pertanyakan perihal: Akankah aku mengantarmu? jawabannya adalah tidak.

April 2018

0 komentar: