Aku terkadang menjadi orang yang sangat melankolis ketika kenangan masa lalu datang di waktu yang tidak tepat. Memang berat jika aku haru...

Pohon itu Tak Serindang Dulu



Aku terkadang menjadi orang yang sangat melankolis ketika kenangan masa lalu datang di waktu yang tidak tepat. Memang berat jika aku harus mengingat kembali cerita kita dahulu yang telah kita habisi selama 3 tahun lamanya. Bersama mencumbui waktu ketika itu denganmu. Ya bersamamu.

Aku teringat pertama kali membelikanmu kado yang hampir kubakar karena penolakanmu yang tidak terencana dan tidak bisa kutebak sebelumnya bahwa kau akan menolaknya.

Tulisan ini bukan bertujuan untuk mengenang kisah kita yang sendu itu, bukan. Bukan sama sekali.

Setiap kali aku mengingatmu, aku selalu ingat dengan pohon kecil yang kutanam ketika itu di halaman belakang rumah. Setidaknya aku bisa mengurangi kangenku ketika melihat pohon yang kuberi nama mirip sekali dengan namamu. Dengan kasih kurawat pohon itu, setiap hari kuperhatikan. Daun yang mulai muncul, ranting yang menambah di setiap sudut batangnya membuatku semakin yakin bahwa cintamu kepadaku sama seperti pohon ini yang semakin tumbuh.

Selama 3 tahun, pohon ini kurawat hingga semakin hari semakin tinggi, daunnya semakin lebat dan indah sekali. Semakin tinggi pohon ini, aku semakin takut dengan godaan yang suatu saat bisa saja datang diwaktu yang tidak tepat. Aku percaya bahwa semakin tingginya pohon akan semakin kencang juga angin yang akan menghantamnya. Tapi, aku menaruh keyakinan bahwa pohon ini akan kuat, sekuat perhatianku kepadanya.

Pohonku telah berbuah, manis…

Ternyata apa yang telah kuperbuat selama ini menghasilkan. Aku merawat pohon itu sampai ia berbuah, suatu hal yang paling menyenangkan dan memoriable bagi sebuah pohon. Menurutku. Pohon itu semakin indah dan sejuk, memberikan kesejukan bagi siapapun. Aku lupa satu hal, aku hanya merawatnya hingga besar dan berbuah tapi melupakan bahwa ia juga harus dijaga. Aku lupa memberinya pembatas dan pagar yang menandakan bahwa pohon itu adalah milikku. Ini aku sadari ketika ada seseorang yang lebih dahulu memakan buahnya. Yang pasti itu bukan aku. Karena aku tahu, aku lalai.

Aku kecewa....

Setelah sekian lama kita bersama, sekarang ia telah mempunyai pemilik baru yang baru saja ia temui dan langsung ia berikan buah serta sandaran yang nyaman. Aku memang tidak seperti dia, kita ini sangat berbeda. Aku berusaha sekuat tenaga agar ia tetap hidup, tapi dia sibuk mengatur waktu untuk menuggu saatnya tiba memanen pohon itu.

Kamu tahu siapa pohon itu? sudah ada bayangan?

Ya, seperti itulah aku yang dulu. Bersusah payah namun tetap kecewa. Sekarang aku ingin menebang setiap kenangan kita dari belakang rumahku. Mencabut akar yang sudah menancap dalam, membakar daun yang indah, memotong batang dan ranting dengan penuh keikhlasan. Aku memang harus melakukannya sebagai bentuk kesadaran dan ketulusan. Akhirnya aku hanya ingin mengucapkan kepadamu: selamat menempuh hidup yang baru, selamat berbahagia.


0 komentar: