Pagi ini begitu dingin, aku masih berkutat dengan kasur karena pembalasanku belum selesai semalam. Aku menutup kepalaku dengan bantal d...

Layang-Layang Kenangan #3

 

Pagi ini begitu dingin, aku masih berkutat dengan kasur karena pembalasanku belum selesai semalam. Aku menutup kepalaku dengan bantal dan memeluk erat-erat guling yang berada tepat disebelahku. Mirip dengan orang-orang kesepian ketika penciptaan guling ini. Pagi yang dingin ini, aku berusaha untuk berpisah dengannya, dengan mencoba menutup kedua mata dan tidur. Belum lama aku memejamkan mata, ada suara dari luar yang memanggil namaku beberapa kali. Aku mengacuhkannya, ia memanggil lagi dengan suara yang lebih kencang dan sesekali mengetuk pintu kamarku. Terpaksa, aku harus bangun, siapa tahu ada hal yang penting. Aku takut ia akan brutal dengan pintu kamarku.

Sambil mengusap mata dan pandangan yang kabur, aku mencoba menyapanya "Halo sob, ngapain pagi-pagi ke sini?"

"Aku semalam ke sini, tapi kata adikmu kamu uda tidur, ya aku pulang. Lagian tumben banget kamu uda tidur"

"Ada yang penting kah? sampai pagi-pagi begini uda dateng ke rumah?"

"Ga ada sih, tapi aku ada rencana mengajakmu ke festival layangan siang nanti. Mau ikut?"

Aku berpikir panjang. Ini adalah keputusan yang sangat sulit, tapi boleh juga dicoba untuk mengurangi kenangan pahit kemarin itu. Karena aku yakin, setiap kenangan akan hilang dengan datangnya kenangan yang lain.

"Boleh deh. Tapi, kamu taukan?"

"Apa itu?"

"Jemput. hehehe"

"Siap bos. hehehe."

Aku bergegas untuk bersih-bersih. Pertama membersihkan ruang kamarku yang cukup berantakan, dilanjutkan dengan membersihkan diriku juga yang semakin bertambah umur semakin berantakan. penyebabnya mungkin kalian sudah tahu, karena tidak ada yang mau mengurusi.

Seperti pagi biasanya, ketika pekerjaan bersih-bersih sudah selesai, aku melanjutkan kegiatanku yang paling bermanfaat di dunia, yaitu berkhayal. Berkhayal tentang apapun yang bisa menurunkan kesedihanku. Aku jarang sekali gagal dalam berkhayal, tapi pagi ini rasanya aku gagal dalam melakukannya. Kukira aku adalah penghayal ulung dan tak tertandingi, ternyata aku sadar aku tidak pandai di bidang ini. Bahkan di bidang-bidang lainnya pun aku tidak begitu pandai. Begitu pecundang.

Dalam situasi gagal seperti ini, aku biasanya melakukan hal yang biasa dilakukan orang biasa pada umumnya untuk mengisi waktu luang. Ya, menonton film. Aku memang salah satu penggemar film, tapi lagi-lagi aku bisa disebut pecundang karena selama hidup hanya sekali saja mengunjungi bioskop. Itupun diajak oleh seorang yang menurutku spesial waktu itu. Jika tidak, mungkin hingga sekarang aku tidak pernah menikmati kelucuan orang-orang di bioskop dan menikmati kursi empuk dengan suasana yang begitu nyaman. Ah tapi itu masa lalu, tidak untuk dilupakan tapi cukup dikenang.

Waktu menunjukan pukul 09.53 WIB, aku menutup laptopku mencoba mengintip kearah luar rumah, siapa tahu temanku sudah sampai. Aku tidak menemukan apa-apa kecuali penjual bakso yang biasa mangkal di sekitaran rumah. Aku memilih rebahan daripada menunggunya datang. Karena itu dapat menyimpan beberapa energi untuk menikmati festival layangan nantinya. Menurutku.

Suara pagar berbunyi keras pertanda bahwa temanku sudah datang. Aku tidak menyiapkan minum sebagaimana layaknya tamu karena aku sudah tidak sabar menikmati indahnya festival layangan siang nanti, terlebih lagi kondisiku yang sedang tidak baik sejak kemarin. Kami bergegas, tanpa persiapan menuju tempat festival berlangsung.

"Bro, orang kalau berkunjung itu minimal disuguhi teh. Lah ini belum istirahat uda disuruh tancap gas lagi. hehehe"

"Banyak omong nih. Kalau ga mau nganter yah ga usah. Gpp kok"

"Becanda bro. Gitu aja dimasukin hati. hehehehe"

"Buru tancap gasnya. Uda ga sabar mau liat wajah-wajah cantik nih. hehehehe"

"Mau liat cewe toh? Pas banget"

"Mau liat layangan lah kampret. Cewe mah nanti aja. Kalau pas, pasti dateng dia"

"Nah ini nih. Kalau nunggu terus, kapan dapet bro?"

"Nih yah, aku kasih tau, katanya jodoh itu ga kemana-kemana kok. Nah artinya, kalau jodoh itu pas kita ga kemana-mana bisa dapet. Gitu"

"Bodo ah. hehehe"

Kami melanjutkan perjalanan dengan menikmati sedikit pemandangan yang ada di sekitar jalan. Pohon kelapa yang menjulang, rumput yang rapih dengan dominan warna hijau, burung yang saling berkejaran, dan angsa yang berbaris mengikuti pemiliknya. Indah sekali jalan ini.

Kami sampai di tujuan. Festival layangan. Festival yang diadakan setahun sekali ini memang ramai. Apalagi layangan yang tersedia juga mempunyai bentuk yang bervariasi. Mulai dari bentuk semut, sampai bentuk gajahpun ada. Sungguh meriah. Ditambah dengan adanya beberapa acara seperti konser musik dan tersedianya makanan khas suku di Indonesia menambah kemeriahan festival ini.

Aku sangat menikmati festival ini, duduk di tanah dengan memerhatikan setiap gerak-gerik orang yang bermain layangan dan berlalu lalang di sekitarku. Sungguh, menikmati ciptaan tuhan adalah salah satu nikmat yang tiada tara. Apalagi di saat-saat seperti.

Waktu sudah mendekati malam. Waktu seperti ini yang terkadang aku butuhkan. Menikmati matahari terbenam dengan berbagai kegiatan manusia yang berlalu lalang dan aku satu-satunya orang yang memerhatikan mereka. Ditambah dengan suara ombak dan burung berkicauan menambah klimaks dari hari ini.

"Bro, uda malem nih. Pulang yuk"

"Ah cupu. Baru juga jam segini"

"Lah? Uda jam 21.38 WIB nih"

"Masih pagi itu" aku meyakinkan

"Lah? lagian di sini uda sepi bro. Ayolah balik" ia memaksaku

"Oke"

Aku bangun dari tempat dudukku, mengikuti temanku keparkiran dan melanjutkan jalan pulang. Di parkiran, ada seseorang yang menegur kami.

"Hey. Masih kenal aku?"

"Siapa yah?"

"Teman SDmu"

"SD SAKTU?"

"Iya"

"Namamu siapa?"

"Tantri. Kamu dulu yang culun itukan? Sering dibully karena gigimu kuning? Sering dibully dengan sebutan cepirit juga kan? Masih ingat?"

"Oh iya. hehehe aku masih ingat. Tapi aku lupa siapa kamu"

"Gak apa-apa kalau sekarang lupa, mungkin dengan nomor ini kamu akan ingat" ia memberikan selembar kertas dengan nomor teleponnya dan langsung beranjak pergi dengan motornya.

Aku pulang dengan keadaan kosong dan penuh dengan pertanyaan. Siapa dia? mengapa dia mengenalku begitu detail saat dulu? padahal aku termasuk anak yang biasa-biasa saja. Terlepas dari itu semua, aku bersyukur pada tuhan. Karena tuhan memberiku hari yang sangat menyenangkan dan mempertemukanku dengan sosok wanita yang menurutku cantik. Ya, dia Tantri.

0 komentar: