Aku selalu ingat pertemuanku dengan Dinda. Aku ingat terakhir kali kami berpapasan di toko buku sudut jalan itu. Traffic light yang sela...

Kamu, Memang Bukan Rumahnya #2


Aku selalu ingat pertemuanku dengan Dinda. Aku ingat terakhir kali kami berpapasan di toko buku sudut jalan itu. Traffic light yang selalu memerhatikan kami, warung kopi pakde Danu, juga warung makan bude Denok. Aku sering kali mengunjungi tempat itu, hanya untuk menghabiskan waktu atau lari dari kenyataan dan mengenang masa-masa lampau yang menurutku lumayan menarik.

Aku ingat terakhir kali aku memesan kopi untuknya di warung pakde Danu, mencicipi bersama, saling memandang dan tertawa. Ternyata ada yang terlewat dari khayalanku, aku teringat ketika itu, berkali-kali aku memandang wajahnya dan sesekali aku menggoda dengan "Siapa namamu?" dilanjutkan dengan senyumnya yang manis dan sedikit cubitan di lenganku. Aku merasa bahagia.

Hingga saat ini, berkhayal adalah kegiatanku sehari-hari. Di dalam kamar, di toilet, di ruang tamu, di dapur, di toko buku, di warung pakde Danu, dan hampir di semua tempat aku berkhayal.

Toko buku di sudut jalan itu masih sering aku kunjungi, sekedar mengenang atau hanya melihat buku-buku terbaru tanpa ada satupun yang aku beli. Dinda pernah bilang:"Aku sangat menyukai bau buku baru, menyegarkan. Apakah kamu juga begitu?" Aku hanya diam dan melihat-lihat isi dari beberapa buku yang sudah terbuka dan menghiraukan pertanyaan Dinda. Aku menyadari memang, bau buku baru itu unik, bisa mengalahkan bunga atau parfum yang mahal sekalipun.

Aku tersadar dari lamunanku, pagi yang dingin membuatku tak kuat hati untuk membasahi tubuhku. Aku takut ia kedinginan. Sementara aku memang salah satu orang yang menyetujui bahwa air adalah sumber daya alam yang dapat habis. Oleh karena itu, harus selalu dihemat. Pagi hari aku habiskan dengan sarapan dan sedikit mendengarkan musik di handphone jadulku yang setia menemani.

Aku merasa heran, ketika aku ingin mengganti musik, ada sebuah ikon surat di pojok kanan atas handphoneku, aku segera membukanya:

"Hey, apa kabar? kuharap kamu baik-baik aja yah? Boleh ga kalau kita ketemuan hari ini jam 11 pagi di toko buku sudut jalan itu?"

Aku diam sejenak, memikirkan apakah ini pesan dari Dinda? atau bukan. Pikiranku mulai tidak karuan dengan pesan singkat seperti ini. Tapi, siapapun dia, aku mencoba menerima ajakannya.

"Boleh. Jam 11 tepat aku sudah di sana yah"

Aku bergegas, mengganti baju yang terbaik, dan memakai parfum andalanku.

Di toko buku sudut jalan ini aku tak menemukan satupun orang yang aku kenal. Apakah aku salah mengira bahwa yang akan aku temui adalah seorang perempuan? atau dia adalah sahabat lamaku?

Aku melamun di depan tangga, memerhatikan sekitar, tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk pundakku.

"Hey, masih aja melamun. Kamu ga berubah yah, sama seperti dulu"

"Oh, hey" aku canggung.

"Aku sudah menunggumu di dalam sejak 10.30, lagian juga aku sudah sms kamu tadi"

"Oh, maaf aku tadi lupa bawa hp"

"Alasan aja kamu"

Lida. Dia adalah teman dekatku, tingkatannya sama dengan Dinda. Tapi itu dulu. Sekarang hanya teman biasa menurutku. Ia menghilang hampir 2 tahun, tidak ada kabar sedikitpun. Bahkan, kami sudah jarang bertemu di jalan atau tempat biasa kami sering menghabiskan waktu ketika itu.

"Kamu gemukan yah. hehehe" ia mulai mencairkan suasana.

"Oh iya, perasaan kamu aja kali" aku malu.

"Iya beneran. hehehe. Oiya, ngomong-ngomong aku kadang kangen tempat ini loh. Apalagi dulu, pas jalan sama kamu. hehehe"

Aku diam. Malu. Semua badanku kaku, tidak bisa digerakkan. Mulut berusaha mengucap, tapi hasilnya nihil.

"Kenapa diem aja? Cerita dong selama ini kamu ngapain?"

"Aku yah seperti yang kamu tahu"

"Apa itu?"

"Berkhayal, nonton, makan, tidur. begitu terus berulang-ulang"

"Ah kamu mah suka begitu, merendah terus. Kalau aku bla..bla...bla..."

Kami bersepakat untuk sama-sama pulang karena hari memang sudah malam setelah Lida menceritakan apa yang sudah aku lewatkan tentangnya selama 2 tahun ini. Kami pulang kerumah masing-masing, Aku ke rumahku, Lida ke rumahnya.

Setelah pertemuan singkat kemarin, kami seringkali berkomunikasi seperti dulu lagi, saling melempar candaan, berdebat dengan ngalor ngidul. Sampai akhirnya aku merasa tidak ada salahnya jika aku menembaknya lagi untuk menjalin hubungan bersamaku. Aku mengajaknya kembali ke toko buku sudut jalan, ia setuju, dan aku membelikannya sebuah buku dengan pesan yang kutulis "untuk pacarku" di dalam sampul buku itu.

Warung pakde Danu terlihat sepi hari ini. Aku mengajaknya untuk ngopi sedikit dan menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya buku ini. Pakde Danu selalu tahu kopi apa yang aku suka. Takarannya harus pas, tidak pahit, tidak manis, dan aroma kopinya harus harum setelah masuk rongga hidung.

Hujan menghampiri kami, suasana semakin sendu, mungkin ini waktu yang tepat untuk memberikannya buku. Ah, aku berpikir lagi, bagaimana kalau bukunya nanti basah ketika ia akan pulang, mungkin nanti saja. Pikirku.

Warung pakde Danu jika hujan seperti ini biasanya banyak pekerja yang numpang mampir ngopi atau sekedar berteduh, karena memang tempatnya yang strategis. Benar saja dugaanku, orang semakin banyak, mulai menyalakan korek dan membakar rokok, dan yang aku tahu Lida tidak suka dengan asap rokok. Benar saja, Lida minta untuk diantar pulang.

Aku mengantarnya pulang dengan taksi yang sudah kupesan. Kami masuk taksi. Aku melihatnya tertidur dengan lelap mungkin karena sudah lelah jalan seharian denganku. Salahku memang.

Handphone Lida berdering, di sana terlihat sebuah kontak dengan nama Kentang. Aku merasa aneh dengan nama itu, entah sosok seperti apa manusia bernama kentang ini. Aku tidak mengangkap telpon dari Kentang, membiarkannya beberapa kali sampai akhirnya tanganku gatal untuk memencet tombol hijau. Aku mendengarkan ia berbicara, di sana ada sosok laki-laki yang memanggil nama Lida dengan sebutan Ubi. Aku diam, tidak berbicara sedikitpun dan mematikan langsung telponnya.

Aku melihat dalam-dalam sosok Lida, sepertinya ia ada masalah, tapi aku tidak ingin menambah masalahnya.

Waktu begitu cepat berlalu, aku berencana langsung pulang dengan menolak tawaran Lida untuk menginap semalam di rumahnya. Di sepanjang jalan pulang, aku membuka buku yang sudah aku beli tadi siang. Aku membuka lembar demi lembar, aku menemukan sepenggal kalimat yang aku ulang tiga kali "Tiap manusia memiliki rumahnya masing-masing. Rumah manusia itu adalah pasangannya. Bila yang bersamamu yang lalu sudah tidak bersamamu, berarti kamu hanya tempat singgah, beristirahat, berteduh. Tapi, kamu bukan rumahnya".

Sepanjang jalan aku hanya berdiam diri, merenung sekaligus mengenang waktu yang singkat bersamanya. Sepertinya kita menemukan ketidaknyamanan yang berbeda. Aku berusaha, kamu mencoba untuk menghindar. Patah hati ini aneh sekali, tapi beruntung aku tidak merobek buku itu. Tidak seperti biasanya.

Sesampai di rumah, aku mencoba untuk tidur. Berharap apa yang telah terjadi ketika aku bangun adalah bunga tidur yang memberikan pelajaran bagiku.

0 komentar: