Semalam, tepatnya saat aku pulang kerumah, ada satu hal yang menurutku cukup mengejutkan. Patrick tidak ada lagi di kamar. Ya, itu mengejutk...

Malam Ini Aku Rindu, Bagaimana Denganmu?

Semalam, tepatnya saat aku pulang kerumah, ada satu hal yang menurutku cukup mengejutkan. Patrick tidak ada lagi di kamar. Ya, itu mengejutkan sekali apalagi ada sepucuk surat di atas meja belajarku yang berantakan itu. Sebenarnya aku cukup lelah pada saat itu, tapi surat yang ada di atas mejaku menyimpan sesuatu yang membuatku harus membacanya malam itu pula.


Aku bersandar pada dinding kamar, memeluk bantal, dan membacanya.

Kita adalah manusia yang diberikan tuhan perasaan yang sama disaat yang bersamaan, mungkin diawal kita sangat ringan untuk menjalaninya namun waktu demi waktu kurasa perjalanan ini cukup berat untuk dijalani, Mungkin berat juga untuk kita, atau hanya untuk aku saja?

Kita berjauhan, kamu sibuk, kita saling rindu, atau hanya aku saja?

Kita berjauhan, kamu sibuk, kita saling menunggu, atau hanya aku saja?

Kita berjauhan, kamu sibuk, kita saling saut doa saat malam, atau hanya aku saja?

Hai, ini malam yang kesekian kalinya. kamu tahu? kamu ingat? atau hanya aku saja?

Sampai detik ini kita belum bisa berjumpa, masih tetap sama dengan saut doa dan tanpa tau apa dan bagaimana denganmu.

Aku memang bukan penyair yang bisa mengartikan sesuatu menjadi lebih indah. aku juga tidak bisa menjadi seperti kebanyakan orang yang pandai mengartikan rindu lewat hujan. Aku bahkan bukan seorang penulis yang bisa mengungkapkannya lewat tulisan romantis. Yang aku tahu hanya satu. Aku hanya rindu padamu malam ini.

Rindu yang sudah lama kupendam dalam beberapa malam terakhir sebelum aku menuliskan surat ini terlalu berat untuk aku atasi sendiri, aku harap kita berdua bisa saling bergandengan tangan dan melewati rindu ini bersama. bagaimana? kau setuju?

Disini senja sangat cantik, warnanya kuning kemerahan, Mataharinya bulat sekali. Bagaimana dengan langit soremu disana? Tidakkah kau mau melihat senja bersamaku lagi?

Disini hujan sangat dingin, udaranya menusuk hingga terasa ketulangku. Apakah kau disana merasakan hujan yang sama?

Disini sudah mulai gelap, bintangnya bersinar lebih terang dari biasanya. Apakah kau yang mengirimkannya?

Disini aku rindu, bagaimana dengan mu disana? Aku yakin kau pun berusaha untuk bisa melewati semua ini.

Selamat malam yang ke 20.


******

Aku membaca suratnya berulang-ulang, memerhatikan setiap tanda baca dan kalimat yang terangkai dalam isi surat itu. Tidak ada satupun kata yang kutemukan selain "RINDU".

Aku mencoba membayangkan sosok yang mengirimkan surat ini walaupun aku tidak tahu surat ini ditujukan untukku atau untuk Patrick.

Tapi aku tahu satu hal malam ini, aku juga merasakan "RINDU padamu". Iya padamu.....

5 comments: