Novel ini adalah yang novel kedua dari Sabda Armandio (@armandioalif) yang aku selesaikan, padahal ini adalah novel pertamanya. Kamu: Ceri...

Cerita 3 Hari yang Menarik, Absurd dan Menggelitik (Review Kamu: Cerita yang Tak Perlu Dipercaya)

Novel ini adalah yang novel kedua dari Sabda Armandio (@armandioalif) yang aku selesaikan, padahal ini adalah novel pertamanya. Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya banyak menyimpan cerita kenangan, menggelitik, absurd, dan menarik. Tokoh dalam novel ini saling mengisi satu sama lain dan membentuk cerita yang padat seakan tidak ada tokoh yang sia-sia. Sebut saja tokoh-tokoh pelengkap seperti Pesulap, Anak kecil di warung mie instan, Hunhun dan Hana ikut andil dalam pembentukan cerita tidak hanya menjadi pelengkap agar cerita menjadi lebih panjang.

Tokoh utama dalam novel ini adalah "Aku" (pencerita) dan temannya, Kamu. Aku memiliki karakter yang pasif, suka melamun, pemurung, dan pelupa. Sedangkan Kamu adalah seseorang yang tengil, penghisap ganja, selow, pemberontak, anti mainstrean, tapi cerdas.

Cerita selama 3 hari yang menurutku sangat menarik, nyeleneh, absurd ini disajikan benar-benar asik oleh penulis. Mengapa tidak, ternyata diakhir buku ini, adalah flashback dari 10 tahun lalu saat "Aku" dan "Kamu" menghabiskan waktu bolosnya ketika SMA. Kenangan yang tercipta menjadi sebuah kisah yang menarik sampai akhir halaman.

Hari Pertama

Cerita bermula ketika Kamu mengajak Aku untuk bolos sekolah. Untuk sebagian orang, bolos sekolah berguna untuk menghabiskan waktu agar bisa bermain atau setidak berkumpul dengan teman. Karena sosok Kamu ini tengil, ia mengajak bolos Aku hanya untuk mencari sendok yang tertukar ketika ia membeli bakso. Selain pencarian sendok yang tertukar, pengantaran paket oleh ayah Kamu untuk Kakek Su juga menjadi salah satu bagian terbaik dari novel ini.

Ketika pengantaran paket, ada kejadian aneh yang terjadi dan menyebabkan mereka harus terjebak di jalan karena macet. Bukan disebabkan oleh meningkatnya volume kendaraan, melainkan karena ribuan monyet keluar dari dalam parit dan membuat kegaduhan yang luar biasa di jalan. Mereka (monyet) banyak mengambil smartphone manusia dan manusia membalikannya dengan menembaki mereka. Tak sedikit dari monyet itu yang akhirnya meninggal ditempat.

Keadaan semakin gaduh mempertemukan peperangan antara manusia dan monyet saat itu. Aku dan Kamu mengendarai Datsun, kebingungan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari kemacetan dan ribuan monyet sedangkan paket harus tiba di tempat tujuan tepat waktu. Kamu mengajak Aku turun dari mobil dan berinisiatif untuk lewat jalan pintas yang dulu pernah ia lalui bersama dengan ayahnya.

Jalan pintas ini berada pada lorong bawah tanah yang menurut Kamu bisa membuat perjalanan 20 km hanya ditempuh kurang dari sejam dan itupun dilakukan dengan berjalan kaki. Mustahil. Setiap orang pasti tidak percaya dengan waktu tempuh perjalanan tersebut, berlaku juga untuk Aku. Tapi akhirnya mereka berdua sepakat untuk menggunakan jalan pintas karena memang itu satu-satunya cara agar sampai dengan tepat waktu.

Lorong yang gelap dan agak berlendir mereka telusuri hingga sampai di ujung lorong. Aku bingung karena yang ada di hadapannya adalah padang luas dengan banyak bunga cantik disana. Kamu menjelaskan bahwa ini adalah tempat yang bernama "Sisi B Kota Bogor" sejak dahulu tidak pernah berubah dan seakan waktu berhenti seketika. Tidak hanya waktu, tempat ini juga merekam banyak percakapan, bahkan percakapan orang yang sudah mati juga bisa ditemukan di sini.

Aku sangat mendominasi di tempat ini. Suatu ketika mereka terbangun dan lagi-lagi yang mereka dapatkan adalah hal unik. Mereka mendengar suara angin dan ombak secara bergantian dan sudah bisa kita definisikan bahwa mereka sedang berada di pantai. Jika di pantai biasanya yang mereka temukan mungkin sebangsa kepiting atau kelomang, di Sisi B dari Kota Bogor ini mereka menemukan orang utan raksasa yang bisa berbicara. Ditambah lagi dengan kaos yang dipakainya bertuliskan "Save Human".

Ada percakapan yang menurutku sangat menarik disini. Dimana saat orang utan raksasa ini mendatangi Aku dan Kamu ia berkata bahwa mereka ada untuk menyelamatkan manusia. Aku tambah bingung, orang utan bisa bicara saja ia bingung, bagaimana dengan orang utan berbicara seperti itu. Aku mulai membalas dengan tujuan membenarkan bahwa orang utan itu ada untuk menyelamatkan alam. Orang utan kemudian membalas “Bukan, bukan menyelamatkan alam. Buat apa alam diselamatkan. Lagipula diselamatkan dari apa? Alam selalu bisa menjaga diri, ia bisa menyembuhkan lukanya sendiri. Pohon dan rumput akan tetap tumbuh meski kita tak ada. Justru kita yang harus saling menyelamatkan, bukan?” (hlm 95).

Cerita ini berlanjut sampai mereka menemukan Kakek Su dengan menyusuri sumur dan tiba di area kebun teh. Bertemu dengan Kakek Su banyak cerita yang diangkat oleh penulis mengenai bahasa, kehilangan, sampai dengan cinta.

Aku terbangun dan ternyata cerita diatas adalah mimpi yang ia alami selama 5 menit di dalam mobil. Sedangkan Kamu masih sibuk dengan polisi di depan mobilnya. Tapi setelah Kamu masuk mobil, Aku menyarankan untuk mengikuti mimpinya sampai ia tahu bahwa ada jalan pintas sedemikian rupa karena keadaan pada saat itu masih sangat macet. Kamu dengan ketengilannya hanya bilang "Salut" lalu memutar balik mobil dan bermaksud untuk mencari sendoknya yang hilang. Paket ayahnya tidak jadi diantar oleh mereka.

Sepulang dari jalan, mereka menyetop tukang bakso untuk makan dan mencari sendok Kamu yang tertukar. Kejadian tukang bakso itu berakhir dengan penyergapan, karena penjual bakso itu ternyata adalah seorang polisi yang sedang berburu penjahat. Sepulang dari tukang bakso dan meninggalkan adegan action itu, Aku minta diantarkan ke rumah pacarnya (saat itu belum mantan). Di depan pagar Aku hanya berdiri dan tak lama pacarnya datang dan memeluknya, membisikan bahwa ia hamil. Aku bilang bahwa ia akan bertanggung jawab padahal ia juga bingung karena belum pernah berhubungan dengan pacarnya. Bahkan ciuman sekalipun tidak pernah. Tapi pacarnya menjelaskan bahwa yang menghamilinya bukanlah Aku.

Hari Kedua

Hari kedua tidak banyak cerita unik yang terjadi namun wajib diikuti setiap alurnya. Pacar Aku yang mengandung, mengidam untuk ketemuan dengan Aku. Mereka pergi ke kafe dan berbicara tentang kehidupan dan kelanjutan kisah cinta mereka. Dalam dialognya, Pacar Aku memikirkan untuk bunuh diri karena sudah tidak ada lagi harapan. Tidak bisa sekolah, tidak bisa ikut ujian (pada saat itu mereka kelas 3), orang tua kecewa dan masih banyak lagi. Aku sebagai orang yang selow selalu mengatakan dan memberikan pengertian bahwa hamil itu manusiawi dan setiap perempuan pasti hamil. Tidak ada yang perlu di pusingkan.

Lama mereka bercerita, Pacar yang sudah menjadi mantannya ini ijin untuk ketoilet. Kejadian aneh menghampiri Aku lagi. Kali ini Aku kedatangan lelaki berjenggot panjang dengan topi panjang dan ia adalah seorang pesulap. Trik sulap pun ia tunjukan; mengeluarkan katak, boneka, dan sebenarnya lelaki itu hanya ingin memberikan kartu nama dengan alamat yang sama dengan alamat rumah aku. Aku bingung sampai mantan pacarnya datang.

Mereka pulang, dan Aku menemukan tukang pos tersenyum sambil menaruh surat di kotak pos rumahnya. Aku tidak kaget dengan surat yang datang karena itu adalah salam perpisahan dari mantan pacarnya yang sudah mantap untuk bunuh diri. Pertemuan mereka siang tadi juga terjadi karena mantan pacarnya ingin memberikan salam selamat tinggal dan melihat Aku untuk terakhir kalinya.

Hari Ketiga

Di hari ini adalah puncaknya. Giliran Kamu yang lebih banyak berperan karena mengejar cinta Permen (nama seorang perempuan). Mulai dari mengajaknya makan di cafe, mengantarkannya kerumah sakit, sampai melihat Permen dicium oleh pria lain yang menyukainya juga.

Cerita ini berakhir saat Kamu mengajak Aku dan Permen ke pantai, nyatanya mereka di atas bukit dan memang melihat pantai dari atas. Aku banyak melamun, sementara Kamu dan Permen bercerita dengan intimnya.

*****

Novel ini adalah buku kedua yang aku habiskan tidak lebih dari 3 hari. Banyak kisah menarik, inspiratif, lucu namun cerdas bersatu dalam cerita 3 hari yang mereka lalui. Novel ini adalah buku terlusuh yang pernah aku punya karena banyak sekali halaman yang harus aku tandai dengan lipatan. Bukan tanpa alasan, lipatan itu aku buat karena ceritanya memang bagus sekali terutama dialog-dialog dari tokoh yang ada.

Novel ini sebenarnya berfokus pada keresahan remaja dalam menghadapi dunia. Dialog-dialog yang tercipta juga anak muda sekali, namun bukan dialog tanpa arti atau dialog dangkal tak penting. Keresahan dan kegelisahan yang terjadi memang masih menjadi realita hingga sekarang. Dibawah ini beberapa percakapan yang aku tandai karena memang menarik.

“Kita ini sangat ingin dibilang orang kota, sampai-sampai kita lupa, kampungan memiliki makna yang romantis. Dan si orang kota ini terus menerus mengeluh soal betapa buruknya tata kota, kemacetan, dan membanding-bandingkan keadaan dulu dengan sekarang. Lalu mereka dengan tak tahu diri memuja-muja harum tanah basah, mencari udara segar ke hutan, memotret langit senja di gunung atau matahari terbenam di laut, tapi nggak ada yang mau hidup di kampung atau merubuhkan kota mereka dan menjadikannya kampung lagi. Mereka takut kehilangan kemapanan yang mereka bangun untuk menunjang hidup enak dan praktis. Yang bisa mereka lakukan hanya mengkhayal tentang kehidupan desa sambil minum kopi.”

“Aku pernah mendengar orang-orang yang membakar hutan sering teriak-teriak ‘cari uang buat makan’. Jadi kupikir kalian makan uang,” ujar Orang Utan sambil menggosok-gosok kepalanya.

"Perempuan di depanku ini benar-benar payah dalam menghafal tanggal, tahun, dan nama-nama tokoh dalam pelajaran sejarah, tetapi ia memahami betul cara mengikat rambut. Hasilnya tak terlalu kencang, juga tak kelewat kendur. Ikatan yang membuatnya nyaman. Paham, kupikir jauh lebih penting ketimbang hafal"

"Kini makanan semakin praktis. Mi instan, kupikir adalah salah satu ciptaan tercanggih manusia hingga saat ini. Yang jadi petani cukup segelintir orang saja. Sisanya, cari uang dengan profesi lain.Yah, mungkin malu jadi petani dan berfikir selama masih ada orang lain yang mau bertani, bereslah"

“Mulutku bersekongkol dengan otak untuk melindungi diriku sendiri dari perasaan-perasaan yang mungkin muncul jika aku mengetahui lebih banyak.”

“Karena aku tidak tahu harus memercayai siapa akhir-akhir ini. Rasanya, orang-orang gemar membuat kita tersesar. Jadi, kupikir, aku harus membuat peta milikku sendiri”

Ada pula kata-kata yang mengkritik dunia pendidikan, terutama adanya UN. Ketika itu, ada seorang murid bernama Hana yang bunuh diri karena takut menghadapi UN. Dan Kamu berkomentar,“Lagipula, menurutku Hana nggak benar-benar bunuh diri, secara nggak langsung, negaralah yang membunuhnya”

Kalimat yang tercipta memang membawa pembaca menjadi hanyut dan berpikir lebih jauh tentang percakapan itu. Konyol, sedih, gelisah, menggelitik, dan selalu memunculkan kejutan bagi pembaca adalah ciri khas ketika Aku bertemu dengan Kamu. Pembaca terkadang dibawa bergejolak dengan perasaan yang bisa tercipta saat membaca novel ini, kadang sedih, kaget, dan gelak tawa karena lelucon yang terjadi di dalam novel ini. Selamat membaca, Kamu dan Aku.



        Judul          : Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)
        Penulis       : Sabda Armandio
        Editor         : Dea Anugrah
        Penerbit     : Moka Media
        Tahun        : Cetakan 1, 2015
        Tebal         : viii+348 halaman
        ISBN           : 979-795-961-9

0 komentar: