Malam kemarin patrick datang menemuiku sekitar pukul 22.39 WIB. Ia mengetuk pintu kamarku dengan keras sekali tapi tak ada suara apapun d...

Patrick dan Cerita Asmaranya


Malam kemarin patrick datang menemuiku sekitar pukul 22.39 WIB. Ia mengetuk pintu kamarku dengan keras sekali tapi tak ada suara apapun darinya. Aku kemudian membuka pintu dan sedikit kaget setelah melihat badan Patrick yang semakin membengkak dengan mata sayu yang ia tunjukan malam itu. Aku mempersilahkannya masuk ke dalam kamar karena aku yakin ada yang ingin ia sampaikan lewat mimik wajah tidak enak yang ia tunjukan.

Setengah jam berlalu, Patrick tidak berbicara sedikitpun ia hanya diam di pojok kamar sambil menutup mukanya. Aku memberanikan diri untuk menanyakan ada apa dengannya. Ia hanya menengadah melihatku dan kembali menutup mukanya. Sialan aku dicuekin. Tak lama setelah itu Patrick meminta minum dan memanggil namaku dengan nada sendunya. "Bro, ada yang mau aku ceritakan". Dengan memberikan segelas air dan akupun mulai mendengarkan ceritanya.

***

Akhir-akhir ini, banyak hal yang membuatku tak melakukan apa-apa selain berdiam diri. Aku banyak menjadi pribadi yang suka merenung, mengatur nafas dalam-dalam dan selalu belajar untuk menenangkan pikiranku yang kacau ini. Semuanya berantakan, semuanya terbengkalai, tidak jalan sedikitpun apa yang ingin aku capai hingga hari ini. Alasan utama dari itu semua adalah perihal asmara.

Kemarin-kemarin sebelum aku menemuimu, aku mencoba untuk mengenyampingkan urusan asmara yang sedang aku jalani. Langkah yang aku ambil ternyata memudahkan gerakanku dalam situasi apapun namun tetap saja pikiranku mencoba menggali perihal asmara tersebut. Aku terkadang bingung dengan semuanya, apakah caraku salah dalam memperjuangkan seseorang yang menurutku istimewa? Aku percaya bahwa setiap cinta akan kembali kepada tuannya dengan cara memperjuangkan dengan sepenuh hati dari dua belah pihak, bukan satu pihak. Aku sering sekali berpikir tentang konsekuensi tindakan dalam mencintai, Aku yakin pasti ada konsekuensi berat di depan sana tapi jujur aku tidak peduli tentang itu. Aku tidak takut, karena yang aku ketahui konsekuensi malah membuat orang menjadi semakin kokoh terhadap pendiriannya.

Aku sadar, aku masih punya banyak sekali tugas untuk mengurus diriku sendiri bukan menyakiti diriku. Kasihan, tidak terurus dan semakin terbawa arus kesedihan yang berlarut-larut. Jika sedih, aku terbiasa menulis kata-kata dalam buku khusus yang selalu ada di kamarku sebagai arsip kenangan yang suatu saat bisa aku baca kembali. Tulisanku selalu sembrawut jika sedih seperti perasaan yang ada pada saat itu. Aku terbiasa menulis mengalir, menulis sampai semua yang ada di hatiku keluar dan membuatku tenang seketika. Karena setiap orang punya caranya masing-masing, itulah caraku untuk memanjakan otak dan hatiku.

Kesedihan yang hadir sebenarnya ingin sekali aku sesali, tapi aku sadar memang tidak ada gunanya menyesali sesuatu yang sudah terjadi dan hilang. Aku harus terus belajar untuk memahami setiap hidup adalah lika-liku yang tak pernah kita ketahui alurnya karena aku yakin semua hal yang telah kita lalui adalah hal yang harus kita pelajari. Itu lebih realistis.

Kadang, aku lebih suka berlarut-larut kepada kenangan yang sedang terjadi. Hal itu selalu terbesit di kepalaku dan membuatku akhirnya berdiam diri kembali dan mencerna semuanya. Aku orang yang selalu membatasi diri kepada apapun, contohnya aku cuma percaya kamu sebagai teman cerita yang baik. Cuma kamu orang yang mengerti keadaanku seberat apapun itu.

Aku pernah bertemu orang lain yang membuatku nyaman, tapi jujur lambat laun mereka pergi dan tidak setia. Cuma kamu, Iya kamu. Terimakasih.

***

Patrick kemudian pergi meninggalkanku dengan memejamkan matanya karena mungkin sudah kelelahan bercerita tentang keluh kesahnya. Aku tidur pula disampingnya dan memeluknya hangat. Aku terbangun dan menuliskan cerita ini. Aku tersadar dan melihat sekitar kamarku ternyata aku sendirian dan pintu kamarku terkunci dari dalam.

0 komentar: