Monas Ketika Tahun Baru... malam ini sungguh ramai diwilayah kosan-ku karena memang sedang mempersiapkan malam tahun baru, namun itu ber...

Inikah Yang Dinamakan Malam Tahun Baru

Monas Ketika Tahun Baru...
malam ini sungguh ramai diwilayah kosan-ku karena memang sedang mempersiapkan malam tahun baru, namun itu berbanding terbalik dengan suasana kosan ku saat ini, sepi, sesepi perasaan anak kepiting yang terhanyut di atas balok kayu ditengah laut (Kalau anak laut pasti tahu).ya wajar saja jika sepi karena kami hanya bertiga disini. karena kesepian itu aku melampiaskan dengan membuka media sosialku yang sering aktif yaitu facebook dan instagram secara bersamaan, dan kulihat betapa ramainya orang yang merayakan tahun baru itu dengan beberapa kata-kata dan hastag #HappyNewYear di semua status yang ada di beranda ku.

Semakin malam semakin sepi di daerah kosanku, dan tiba-tiba suara keheningan muncul akibat listrik yang padam tanpa sebab, aku mengurung diri di ruang tamu dan memandangi laptop yang hampir habis baterainya. tiba- tiba suara dari bawah memanggi- manggil untuk bebakaran jagung bersama.

"Gus... Gus (bukan aku yang dipanggil).. Yang diatas suruh turun kita bakaran jagung nanti.."
"Iya pak." Kata Temanku (Sembari langsung bergegas dan mengajak kami untuk turun bersama)

 Angin segar terasa menghampiri wajah yang senduh akibat mati listrik dan mati perasaan, seakan rasa gembira datang karena sudah terlalu sepi se isi kosan ku.

Jagung-jagung mulai dikupas, aku dan temanku mulai membakar arang yang akan dipergunakan untuk membakar jagungnya, dan kami hanya ditemani suara anak-anak yang sedang bebakaran sosis disebelah rumah. tak ingin melewatkan kebersamaan itu, akhirnya kami memanggil mereka dan ikut bersama disini.tapi niat tak kunjung berhasil, kami akhirnya bebakaran kembali tanpa mereka.

Tepat pukul 22.45 WIB listrik akhirnya menyala kembali dan suara gemuruh dari berbagai arah kembali menyuarakan teriakan-teriakan aneh karena tidak gelap-gelapan lagi. ada yang senang karena terang ada yang kecewa juga karena terang (yang ini tak perlu dijelaskan).

Tak lama waktu berselang, menjelang menit-menit pergantian tahun, jagung yang kami bakar semua telah matang dan siap disantap. Aku tidak ikut makan bersama mereka karena sedang menunggu pertandingan sepak bola club favoritku(untuk ini aku tidak bisa diganggu). temanku berusaha memanggil tapi aku hanya bilang "Saya diatas aja nanti makannya". Ya, Karena tidak ingin kelewatan pertandingannya.

Akhirnya temanku membawakan 6 buah jagung bakar yang bisa dibilang ini adalah makanan yang cukup banyak untuk menemani menonton pertandingan, tapi ya wes lah di terima karena ini rejeki. Aku langsung memakan jagung itu di detik-detik pergantian tahun, ketika di televisi semua menghitung detik pergantian tahun aku masih asik memakan jagung tanpa menghiraukannya. 3,2,1 dooorrrr semua langit malam itu di penuhi dengan petasan yang berwarna-warni dan suara menggelegar dimana-mana.

****

Pertandingan dimulai dengan begitu panas sekali malam itu dan akhirnya, pertandingan dimenangkan oleh tim favoritku. suara-suara petasan itu masih saja menghiasi hingga waktunya aku tidur,
suara menggelegar dimana-mana itu seakan adalah bom-bom yang sedang diledakkan. aku tidak berani melihatnya dan entah kenapa malam itu aku merasakan penderitaan yang begitu mendalam, aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya saudara kita yang sedang mengalami hal seperti ini, padahal ini hanya mainan tapi ko rasanya seperti sungguhan.  kebisingan semacam ini mengganguku dan kemudian kuambil sarung untuk menutupi seluruh badanku. aku mulai terlelap dalam sebuah mimpi. ya mimpi.

Mimpi ketika aku berada pada posisi saudaraku yang mengalami perang luar biasa sekarang, dan sungguh ini adalah mimpi buruk sekaligus mimpi akan hal yang sangat membuatku perfikir ulang untuk selalu berbuat baik.

dan akhirnya aku selalu ingin bertanya,
Inikah yang dinamakan nikmat di malam tahun baru?

Ditulis Di kamar sejarah 
Jakarta, 01-01-2017
05.10 WIB Ditemani Lagu Damai

0 komentar: