Depan Dermaga  +Pulau Sebira   Entah kenapa semingguan ini aku selalu kangen dengan pulauku sendiri, ada angin apa gerangan? wah mungkin...

Pulau Sebira dan Kemurahan Hati Ikan Selar

Pulau Sebira
Depan Dermaga +Pulau Sebira 
Entah kenapa semingguan ini aku selalu kangen dengan pulauku sendiri, ada angin apa gerangan? wah mungkin ini angin rindu akan pulang. hehehehe baru juga seminggu dijakarta lagi.

Sebenarnya aku hanya ingin berbagi sebuah kisah unik dibalik judul tulisanku kali ini yaitu Pulau Sebira dan Kemurahan Hati Ikan Selar. Bukan untuk membanggakan sebenarnya tapi hanya untuk berbagi, karena konsep berbagi itu indah.

Pulau terujung dikepulauan seribu, bagian terujung jakarta yang tak banyak yang tahu. berbeda dengan hawai yang jauh namun terkenal. tapi untuk keindahan alamnya bisa lah diadu hahaha *emangnya gangsing :3. ya namanya pulau sebira, pulau yang selama 20 tahun ini memberikanku banyak pelajaran yang tak akan pernah terlupakan dan memberikan begitu manfaat untuk 500 kepala lebih yang tinggal disini.

pulau sebira
Tempat yang selalu kutunggu +Pulau Sebira 


Setelah kemarin teman-temanku dari ENJ ( Ekspedisi Nusantara Jaya) Banyak melontarkan pertanyaan tentang kehidupanku dan ada juga pertanyaan konyol nan serius tak pernah terpikirkan seperti :

Kalau nanti tsunami gimana ran?
" Aku cuma bisa jawab ya uda pasrah aja emangnya mau kemana? ya itu menjadi sebuah takdir yang di goreskan, tapi ya semoga aja ga"

" Emang ga bosen ran hidup di sini yang kecil banget ga sampe 9 hektare?"


" Aku cuma bisa senyum dan bilang, aku selama 20 tahun tinggal disini dan selalu rindu akan pulau ini serta keluarga dan tak ada rasa bosan, dan aku yakin kamu juga pasti merasakan hal yang sama jika sudah singgah dari pulau ini" *Sambil senyum jahat :D

ya mungkin seperti itu yang mereka utarakan dan itu membuatku selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah kepadaku, tak pernah terpikir sih awalnya dengan pertanyaan seperti itu tapi sekarang sudah mulai terfikir hahahahaha.

Berawal dari pertanyaan-pertanyaan seperti yang mereka lontarkan aku jadi mulai mencari-cari pertanyaan lain yang menurutku memang gila dan hingga detik inipun aku tidak bisa menyingkirkan pertanyaan itu dari benakku, Dan sungguh aku baru sadar tentang arti kebahagiaan yang begitu tinggi dipulau ini. tidak hanya penduduk yang selalu memberikan senyum mereka tapi juga dengan semua yang tersedia dipulauku ini ( Pulau sebira ). terutama siselar yang memberikan kebahagiaan dan pelajaran yang begitu berarti.

Pulau Sebira
Ikan Selar +Pulau Sebira 


Ikan ini yang menemaniku dan selalu memberikan sebuah pelajaran, ikan sejuta umat pulau sebira, bukan pulau sebira kalau ada satu hari tanpa kehadiran siselar ini. sungguh nikmat tuhan yang sungguh luar biasa. kemurahan hatinya mencakup semua kalangan, tidak membedakan status ekonomi, pekerjaan, ras, golongan dan lain-lain yang ada adalah pemerataan, semua orang dipulau ini wajib dan pasti memakan ikan ini,

Tak cukup sampai disitu siselar juga memenuhi kebutuhan baik di pangan, sandang dan pangan mereka penuhi, baik dari sisi dagang yang memakai dagingnya dan dijual lagi sampai yang tak terduga, banyak orang sebira yang berhaji hanya dengan mencari dan menjual ikan selar. sungguh Allah maha adil. dari situ muncul pertanyaan lagi seorang teman ya begini bunyinya.

Ran, disebira pada berangkat haji emang pekerjaannya apa?
" Disini hampir 80% adalah nelayan dan naik hajipun hasil dari tangkapan serta tabungan mereka, Allah tuh maha adil walau hanya bermodalkan jaring insya allah bisa naik jika mendapat panggilan dan ada niat"

Lalu akupun tertegun sebenarnya  mendengar dan memerhatikan jawabanku lalu aku bertanya dengan pertanyaan yang sama dan mulai menelaah kenapa disini orang bisa berangkat haji begitu mudah bahkan yang bisa dibilang status ekonominya biasa saja, sedangkan dijakarta orang mati-matian pagi sampai malam bahkan harus bekerja sambilan lagi. tapi disini masyarakat hanya bekerja dari bada subuh dan pulang sebelum atau sesudah zuhur. entah apa yang membuat ini begitu indah.

Setelah aku mulai berjalan aku teringat akan masa kecil yang menghantui, dan aku terdiam sejenak memikirkan satu kegiatan yang sampai sekarng masih menjadi tradisi dan menjadi kebiasaan masyarakt disini namanya nyambang dan meminta untuk makan.

Sistem seperti ini masih ada hingga sekarang, setiap ada yang datang dari melaut maka hampir semua masyarakat yang tidak melaut bisa meminta ikan untuk dibawa pulang dan jika pemilik kapal mempunyai rejeki lebih maka tak luput pula anak-anak dan ibu-ibu diberi sedikit untuk dijual kembali. Tak ada keegoisan disini dan sungguh aku hingga meneteskan air mata meliskan ini, tak kuat menahan haru yang ternyata sudah aku rasakan selama 20 tahun ini.

Tenyata apa yang mereka kerjakan sungguh sama yang diperintahkan dalam al-quran
yang berbunyi :
" Jika engkau bersyukur kepadaku maka niscaya akan kutambahkan nikmatku kepadamu. namun jika kau kufur akan nikmatku maka sungguh azabku sangatlah pedih (Q.S Ibrahim 08)"

Dan sungguh aku tidak ingin tradisi ini gugur karena status dan saling egois. dan untukmu selar, janganlah menjadi sombong yang tak ingin berbagi lagi dan berprilaku menyeluruh karena penciptamu juga tak pernah sombong.

Jakarta,  06 Okt 2016
05.30 WIB
Ditemani kasur dan alunan musik klasik

0 komentar: