Jika puisi dapat memiliki sifat atau disifati layaknya manusia, maka tentu ia sangatlah introvert. Ia lahir dari hati yang sepi, dibawa...

Puisi Humor


Jika puisi dapat memiliki sifat atau disifati layaknya manusia, maka tentu ia sangatlah introvert. Ia lahir dari hati yang sepi, dibawa oleh angin yang hanya bisik-bisik, untuk diteruskan pada kesunyian lainnya. Puisi seolah tak pernah berisik, dan sekalinya berisik nadanya cenderung marah dan meledak-ledak, seakan lahir dari jiwa yang gusar dan tertindas—ini juga tipikal marahnya seorang introvert.

Satu lagi sifat yang kadung melekat pada puisi adalah eksklusif, seperti pada pilihan katanya yang cenderung tinggi, hingga maknanya yang jauh tersembunyi dan selalu tak mudah untuk dimengerti. Seolah-olah hanya bisa dijangkau dan dinikmati oleh kalangan elit saja, dalam arti sempit yakni mereka kaum terpelajar.

Akibatnya puisi dan masyarakat menengah ke bawah saling canggung dan sulit berkawan akrab. Masyarakat lapisan bawah sudah terlampau banyak memiliki tekanan hidup, dan puisi bukanlah pelarian yang pas, justru bisa-bisa hanya menambah tekanan sebab bahasanya yang melangit dan bikin pusing.
Nah, dari sini Herry Gendut Janarto mencoba menghadirkan puisi dalam bentuk yang lain agar dapat dinikmati semua lapisan kalangan, yakni dengan cara mengawinkannya dengan humor, menjadi puisi humor. Sebanyak 101 judul puisi ia sajikan dalam buku Gado-Gado Kredo; 101 Puisi Humor.

Karena ini puisi, maka keindahan diksinya harus tetap terjaga. Tapi karena ini juga humor, maka lucunya tak boleh lantas dikesampingkan. Justru humor di sini adalah nyawa utama, sedangkan diksi “hanya” sebagai perantara penyampai humor itu sendiri. Jika pilihan katanya lemah, pesan humornya akan gagal tersampaikan. Sebaliknya jika hanya diksi yang berhasil, tanpa ada unsur lucunya, maka lagi-lagi puisi hanya menjadi barang mahal milik orang berkelas.

Dan HGJ—begitu si penulis biasa disingkat—berhasil meramu keduanya dengan apik dan tentu saja, jenaka. Walau bukan hal yang sama sekali baru karena sebelum ini puisi humor sudah “banyak” ditulis seperti oleh Taufiq Ismail, Joko Pinurbo, atau juga Gus Mus, buku ini tetap memiliki keistimewaannya tersendiri, salah satunya dengan adanya ilustrasi lukisan-lukisan yang sangat menarik karya Agus Suwage.

Lebih-lebih, deretan nama yang membubuhkan endorsement atau testimoni juga lengkap dan unik, mulai dari Seno Gumira Ajidarma, Najwa Sihab, Maman Suherman, Happy Salma, hingga Cak Lontong.

Jadi, bagi Anda yang ingin merasakan sensasi terpikat oleh keindahan kata sekaligus tergelitik oleh maknanya; Anda yang ingin melihat puisi dalam wajah yang lain; maupun Anda yang kebetulan punya uang lebih dan belum ada ide mau dihabiskan dengan cara bagaimana, tidak ada salahnya membeli buku ini. Yah, minimal buat selingan biar nggak terlalu suntuk mantengin berita pilgub DKI atau liputan sidang kopi sianida

-Tulisan "Ikhwanuddin Hasan"

1 comment: