Sewaktu kecil sering kubertanya, “Berapa uang yang harus dimiliki seseorang agar ia bisa disebut orang kaya?” Bapak-ibuku sering ha...

ORANG KAYA


Sewaktu kecil sering kubertanya, “Berapa uang yang harus dimiliki seseorang agar ia bisa disebut orang kaya?”

Bapak-ibuku sering hanya tersenyum dan menggeleng menanggapi pertanyaanku. Sebaliknya teman-temanku, yang juga masih anak-anak, berebut menjawab, “Sejuta, dua juta, empat puluh juta, seratus juta, lima ratus juta, sembilan ratus juta,” bahkan ada juga yang menjawab “Seribu juta.”

Kami masih terlalu kecil dan belum mengerti bahwa di atas “juta” ada kata “milyar” lalu “trilyun”. Maka perdebatan tetap berlanjut dengan nominal “dua ribu juta, sepuluh ribu juta, seratus ribu juta,” sampai mentok pada angka “sejuta-juta”. Ketika semua bocah terdiam seolah sepakat dengan angka tertinggi “sejuta-juta”, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Dua juta-juta...”

Dengan demikian perdebatan terus berlangsung tiada henti sebelum para ibu memanggil pulang masing-masing anaknya.

Ketika tumbuh remaja, pernah kudengar seorang motivator di tv dengan pakaian necis dan suara intonasi tinggi berkata,”Menjadi kaya bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa banyak kita bisa memberi.”

Mungkin karena terdengar keren, waktu itu aku mudah saja mempercayainya. Tapi sebenarnya, bagaimana mungkin kita bisa memberi banyak jika yang kita punya hanya sedikit? Aku menyangka, motivator itu pastilah hanya bercanda. Atau kalau tidak, hanya ingin berlagak sangar saja dengan kata-kata yang kedengarannya hebat.

Kelak jika mesin waktu telah ditemukan, aku ingin bertemu dengannya di masa depan dan kuminta lebih banyak motivasi darinya. Lalu aku akan kembali ke masa kecil untuk membual di hadapan teman-temanku. Pasti mereka akan terperangah, dan berhenti bertengkar memperdebatkan “Sejuta-juta” atau “Sejuta-juta-juta.”

***
Bertahun kemudian, di tahun pertama kuliah, aku berteman dekat dengan seorang mahasiswa yang setiap hari mengutuki dirinya karena merasa salah masuk jurusan. Menurutnya, seharusnya ia kuliah filsafat, bukan Matematika. Di kamarnya yang kotor dan tak terawat saja berserakan buku-buku tebal dengan nama-nama aneh yang hanya sedikit saja dapat kuingat. Albert Camus, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Plato. Selebihnya aku lupa.

Dalam satu obrolan dengan temanku ini, kutanyakan pertanyaan yang sama tentang kriteria orang kaya. Ia dengan penuh semangat menjawab, “Gampang. Lihat saja dari berapa banyak ia mampu dan berani menghambur-hamburkan hartanya. Kalau sekedar punya uang tapi tak berani membelanjakannya dengan gila karena takut habis, berarti belum kaya.”

Mendengar itu aku hanya mengangguk pura-pura setuju. Kemudian kumintai pendapatnya tentang ucapan si motivator yang dulu kedengar. Temanku malah berkelakar:

“Halah, motivator kok dipercaya. Setiap motivator akan terlihat hebat hanya di mata orang-orang yang mempercayainya saja, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang lemah.”

Pada tahun kedua temanku akhirnya menyeberang ke jurusan filsafat. Dan hanya setahun berselang ia memutuskan untuk keluar lagi untuk kembali pulang ke Matematika. Ia bilang padaku, ia telah sadar selama ini hanya dipermainkan dan dikerjai oleh para filsuf terdahulu. Persis seperti ketika aku merasa dikibuli si motivator dulu.

Anehnya aku masih sering melihatnya membacai buku-buku tebal di kamarnya. Dan sebulan kemudian barulah ia mengatakan alasan sebenarnya, bahwa ia keluar dari jurusan filsafat karena patah hati.

Pacarnya, yang juga seorang mahasiswi filsafat, meninggalkannya untuk pergi dengan lelaki lain; satu jurusan, tapi lebih kaya. Dan ketika menceritakan hal ini, tamanku sempat meralat pendapatnya sendiri yang waktu itu, “Sekarang aku tahu, tingkat kekayaan seseorang berbanding lurus dengan kekurangajarannya. Semakin kau kaya, semakin kau harus bersikap bajingan.”

Kasihan kawanku ini. Karena ia sedang patah hati, aku tak tega untuk mengatakan bahwa aku kurang sependapat dengan pandangannya yang emosional dan tendensius itu. Akupun kembali hanya mengangguk pura-pura setuju.

Dan sebenarnya lebih kasihan lagi adalah aku. Yang belum juga tahu, berapa uang yang harus dimiliki seseorang agar ia bisa disebut orang kaya?

Ditulis oleh Ikhwanuddin Hasan

0 komentar: