Masjid hutan mangrove muara angke Kejadian ini berawal dari perbincangan aneh dan janji yang harus kutepati saat menemui sahabat yang ...

Aku, Buku dan Smartphone

Masjid hutan mangrove muara angke

Kejadian ini berawal dari perbincangan aneh dan janji yang harus kutepati saat menemui sahabat yang hebat di Hutan Mangrove Muara Angke.. Semua awalnya indah ketika smartphoneku masih punya tenaga yang besar dan mempunyai baterai full. Dia bisa kubawa kemana saja dan kupakai layaknya ajudan yang bisa kusuruh dengan memainkan jempol saja.

Ketika itu menjelang sore dan waktunya pulang aku mulai termangu dan mulai khawatir akan smartphoneku yang mulai tak berdaya dan memunculkan tanda-tanda menuju sakaratul maut. Dan alhasil menuju 5 menit dari situ smartphoneku mati. Ntah semua orang merasakan yang sama ntah tidak, ketika smartphone mati serasa hidup hampa dan berada seperti dihutan belantara dan seakan tak berdaya. mungkin itu yang aku rasakan kala itu. bingung harus melakukan apa agar tak merasakan kesepian. Selagi otakku memutar fakta  mencari jalan agar tidak kesepian seketika itu aku merogoh tasku dan tak menemukan apapun dan ternyata aku melupakan temanku yang satu lagi yaitu buku yang menemaniku dikala sepi melanda kembali.. oh sungguh ini pengakuan yang sulit

Kesepian yang makin menjadi-jadi ini membuatku merasa iri dengan teman-teman lain yan bisa memegang smartphonennya dan juga buku yang mereka bawa.. oh sungguh aku merasa jadi kecewa dengan diriku sendiri.

Selagi diriku dilanda kesepian aku jadi teringat temanku yang mempunyai 2 hal yang berbeda ini, yang pertama selalu asik dengan smartphonennya dan yang satu asik dengan buku yang dibawanya, aku selalu merasa bahwa aku harus mempelajari keduanya.

temanku yang selalu membawa smartphonennya selalu terlihat keren dan bisa menjadi orang bisa dibilang pintar dalam sekejap. mengetahui jalan kemana saja walau belum pernah pergi kesana, bisa merekam semua kejadian yang menurutnya menarik, setiap pertanyaan yang orang lain lontarkan pasti dia bisa menjawabnya dengan cepat. bisa main game sepuasnya dengan smartphonennya itu dan selalu ada yang menemani saat kesepian, namun yang selalu aku sayangkan ketika ada perkumpulan dan harusnya menghabiskan dengan bercanda ria, dia malah masih asik tertawa sendiri, ntah apa yang ditertawakan didalam smartphonennya itu..hmmmmmm

temanku yang satu lagi yang membawa buku kemana saja terlihat biasa saja dan mempunyai wawasan yang luas, ketika ditanya jalan pun ia tidak akan mengerti karena belum pernah pergi kesana, dan berbicara jujur ketika tidak mengetahui apa yang ditanyakan, namun ketika ada orang melontarkan pertanyaan yang ia mengerti maka jawaban akan sepanjang-panjangnya yang ia mengerti. aku selalu merasa senang memilikinya karena saat perkumpulan ia selalu bisa menghabiskannya dengan candaan riang serta bisa membuat kita semua nyaman dalam perkumpulan tersebut.

Smartphone memang segalanya namun kau harus mengetahui batasan penggunaannya. Buku memang membosankan, namun kau harus membacanya karena kedetailan buku melebihi apapun. Jangan pernah merusak persahabatan kalian dengan smartphone kalian. memang smartphone bisa mendekatkan yang jauh, tapi terkadang ia juga menjauhkan yang dekat.

Aku sedang tidak memotivasi kalian, wong aku aja berlum becus ko, aku hanya ingin mengambil beberapa hikmah dalam perjalananku, hikmah yang benar-benar membuatku menjadi pribadi yang benar-benar lebih baik lagi. 

Ditulis Di Villa Bukit Zaitun, Curug Cilember
 Jakarta, 8-10-2016
Ditemani Suara Jangkrik dan Gemericik Air

1 comment: