Ramadhan sungguh sangatlah istimewah. Apalagi di temani oleh anggota keluarga yang mencintai kita dengan sepenuh hatinya. Tapi entah me...

Kisah Awal Ramadhan


Ramadhan sungguh sangatlah istimewah. Apalagi di temani oleh anggota keluarga yang mencintai kita dengan sepenuh hatinya. Tapi entah mengapa hari ini aku merasa asing di kehidupan dan aktifitas yang sudah sering aku jalani.

Berawal dari kumandang adzan maghrib di awal bulan Ramadhan semua orang menunggu akan ketetapan sebuah penentuan awal ramadhan oleh MUI, tapi dengan diriku, aku hanya asik memandangi langit kamar dan melihat dua ekor cicak menari didepanku. Sungguh perasaanku menjadi sangat iri melihat kemesraan itu di awal bulan ramadhan ini.

Sahur pertamaku dimulai jam 05.00 WIB, mengapa jam 05.00 WIB? Ya benar, aku kesiangan dan tak sempat untuk sekedar mengambil air minum, lucu yah. Ada lagi yang lebih lucu dari itu, ketika aku terbangun dari tidurku, kulihat hp mito berkaret itu dan kubuka, ternyata…. Jeng.. jeng.. ada 40 Panggilan tak terjawab dari 2 orang yang berusaha untuk membangunkanku.. sungguh Ramadhan yang berkesan..

Pagi hari ini ketika aku mulai melangkahkan kaki menuju kursi di kampus semua situasi sangatlah sepi dengan kurangnya aktifitas manusia yang berlalu lalang dan wajah yang tidak semangat ketika ada yang aku temui dijalan. Mengapa semuanya seperti itu? Apakah mereka merasakan hal yang sama denganku? Apakah mereka merasa sendiri? Ah sudahlah itu hanya pikiran-pikiran kotor yang menyarang tepat diujung-ujung ubun-ubunku.

Semua waktu begitu cepat berlalu dengan satu kegiatan yaitu belajar dikampus. Tugas akhir yang membuatku harus keluar dari kehidupan kampus kini kujalani siang itu. Ya kami mengunjungi rumah salah satu rekan untuk mengerjakan tugas, ketika matahari menunjukan keindahannya semua tersenyum dan berharap bisa pulang dengan cepat dan berbuka puasa dengan keluarga, hanya aku yang bingung harus apa karena hanya sendiri di kota metropolitan ini.

Sebuah takdir tak terduga yang mengharuskan kami berbuka puasa dalam besi beroda yang suka merayap ini. Semua bahagia mendengar suara adzan, lagi-lagi hanya aku yang bersedih karena biasanya berbuka dengan keluarga dan kini berbuka dengan sofa dan pulang pasti bertemu dengan kipas angin dan teman yang selalu menemaniku (laptop).

Sedikit bercerita saja kawan dan ingin mengatakan bahwa sebuah kerinduan tidak bisa dibayarkan dengan sebuah tawa, karena tawa bisa dibuat sedangkan kerinduan adalah perasaan yang benar-benar nyata

Jakarta, Juni 2016

18.30

5 comments:

  1. Wah ceritanya keren, ane tunggu cerita' selanjutnya masbro..

    ReplyDelete
  2. keren banget ceritanya gan
    http://ilmufiqih9.blogspot.co.id/2016/06/keutamaan-khusyu.html

    ReplyDelete
  3. Hemmm, setiap orang mempunyai kisah yang berbeda kala ramadhan menjelma... Marhaban ya Rmadhan....

    salam ACADEMIC IND 

    ReplyDelete