Malam ini Aku dan Patrick memutuskan untuk menyeberangi laut menggunakan kapal kayu yang dulu pernah kami pakai bersama. Kapal ini memang pe...


Malam ini Aku dan Patrick memutuskan untuk menyeberangi laut menggunakan kapal kayu yang dulu pernah kami pakai bersama. Kapal ini memang pernah menjadi saksi cerita kita selama ini, yah walaupun Aku dan Patrick sempat menyeberangi laut dengan kapal yang berbeda. Mungkin saat itu kami memang sedang di jalan yang berbeda juga.


Saat pertama kali bertemu dengan Patrick, jujur saja aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama walaupun Aku sempat bersikap aneh saat pertemuan itu. Yaaahhh… bumbu-bumbu remaja memang terkadang membingungkan.


“Perkenalkan, namaku Patrick, Tadi sepertinya kamu memanggilku” sambil menyodorkan tangannya ke arahku.


“Oiya, Maaf, Aku tidak tahu kalau kamu ternyata di belakangku” Aku pergi ke depan kapal dengan perasaan malu.


Entah apa yang terjadi setelahnya, yang aku rasakan adalah malu sekujur tubuh yang tidak bisa aku tampung sepenuhnya. Wajar saja, Wanita secantik dia memandangku dengan penuh semangat.


Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Patrick sudah mulai menjajaki tujuan-tujuannya, sedang Aku hanya diam dan memandangnya dengan penuh perasaan kosong dan bermimpi untuk bisa bertemu kembali.


“Kapan yah kita bisa bertemu kembali? Hmmm.. mungkin tidak akan pernah yah.. Ya mungkin saja”


Aku melanjutkan hari-hari dengan pikiran di kepala bahwa Aku juga harus menjajaki tujuan-tujuan yang sudah aku tulis yah walaupun mungkin banyak yang tidak bisa terwujud seperti salah satu tujuanku menjadi Mr. Krab versi dewasa. Yah anggap saja ini mimpi yang terlalu kekanak-kanakan, dan aku memilih untuk istirahat dalam waktu yang lama.


***


“Hai apa kabar?” Jariku mulai mengetik dengan lincahnya di depan laptop.


“Kabar baik. Gimana keadaan Pulau sekarang?”


“Alhamdulillah sehat, Ka. Aku tertarik sama foto-foto Pulauku yang kakak  share di Facebook. Kira-kira aku boleh minta ga yah? Kebetulan aku lagi suka banget edit foto”


“Boleh banget!! Mau foto yang mana?”


“Yang nomor 1,4,8, dan 9, Kak. Nanti kalau uda selesai aku share lagi yah..”


“Okeeeyyy..”


Facebook akhirnya menjadi saksi bisu percakapan Aku dan Patrick selama bertahun-tahun, ya walaupun Facebook-ku akhir-akhir ini ada yang meretas. Sedih, tentu saja.


***


“Krriiiinnnnggggg….”


Suara alarm membangunkanku, dan ternyata apa yang Aku alami hanyalah bunga tidur yang bisa dibilang indah bercampur sedih.


Tepat pukul 8.30 WIB, Aku mencoba untuk menghubungi Patrick dan mengajaknya agar mau mengarungi kapal bersama lagi. Tangan mulai dingin, kepala rasanya hampir pecah, Kaki rasanya tidak mampu menopang badan yang terlalu besar ini, dan pikiran kacau ke mana-mana. 


Aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, Aku rasa Patrick juga merasakan yang sama, atau hanya pikiranku saja?


“Tringggg...triiinggg”


Aku ambil hpku dengan kondisi badan yang tidak menentu karena sedari dulu Aku adalah laki-laki pemalu yang tidak pernah mengajak lebih dulu seseorang untuk jalan-jalan.


“Triinggg….tringggg”


Keringatku benar-benar tidak bisa terbendung lagi, Aku buka pelan-pelan aplikasi chat yang sangat terkenal, terpampang jelas di atas bahwa ada pesan yang belum terbaca, aku coba membacanya pelan-pelan,


“Tentu saja aku mau, bagaimana kalau kita jalan dengan perahunya tanggal 20 Agustus 2020? Jika berkenan, bisa kita agendakan”



Jantungku berdegup kencang, ternyata Patrick mau menerima ajakanku saat itu. 


“Nak, Ayo bangun… Kan hari ini kamu akan jadi Nahkoda” kata bapak sambil berbisik di telinga kananku.


Aku kemudian bersiap, menuju kapal yang sudah dikerumuni oleh banyak kerabat dekat.


18 Agustus 2020

Ditemani Lagu Dialog Dini Hari - Tentang Rumahku

Kamal Muara


- Memang, ada banyak alasan kenapa aku harus menyerah, tetapi aku tidak akan melakukannya. Kamar ini pernah menjadi saksi betapa hancurnya...

- Memang, ada banyak alasan kenapa aku harus menyerah, tetapi aku tidak akan melakukannya.
Kamar ini pernah menjadi saksi betapa hancurnya Aku menunggu kabar darimu. Mulai dari khayalan, berbicara dengan cicak yang tidak meminta sayap untuk menangkap makanannya, dan terkadang itu menjadi bagian dari pelajaran yang Aku dapatkan untuk terus menunggumu walau apapun yang mungkin bisa terjadi setelah ini. Ya, Aku hanya ingin berusaha saja dan menuliskannya di sini. Mungkin ini adalah tempat terbaik untuk lari, lari dari semua perasaan aneh yang tersimpan.

Setiap hari yang terjadi sejak pertemuan denganmu tak pernah lagi sama, setiap hari yang Aku lalui jadi beda dari hari sebelumnya. Padahal, menurutku, Aku saja yang menyimpan ini. Kamu? Belum tentu.

Mengenalmu adalah anugerah terindah, sama seperti yang dinyanyikan oleh SO7 di salah satu lagunya. Entah sampai kapan Aku menyimpan semua ini dan selalu berdoa untuk selalu dipertemukan denganmu. Menghitung tanggal di kalender yang tidak pernah berubah dan menghitung hari yang terus berulang adalah salah satu hobiku yang beberapa bulan ini sedang Aku tekuni. Mungkin kau sudah tahu alasannya. Atau tidak ingin tahu? Ya itu jadi hakmu.

Selama kita berkenalan hingga akhirnya sering berbagi kisah, Aku selalu ingat bahwa kita jarang sekali berbicara langsung. Sekalinya dapat kesempatan, Aku terkadang hanya berdiam diri karena tidak kuat melihat matamu yang manis itu. Jujur saja. Tapi, di balik itu semua Aku jadi paham bahwa tidak ada kata yang pantas Aku ucapkan tentangmu kecuali "Aku jatuh cinta kepadamu sejak awal kita bertemu".

Aku ingat pertemuan kita di atas meja itu. Pertemuan pertama Aku bisa ngobrol santai denganmu. Matamu tertuju melihatku. Aku ingin melihatnya, tapi tak bisa Aku pungkiri bahwa Aku tidak kuat menatapnya. Aku bergetar. Kamu pernah memberikan guyonan saat itu. Aku tertawa geli, tapi lagi-lagi tak bisa menatapmu.

Pertemuan yang begitu singkat, membuat Aku selalu ingin mengingat kejadian-kejadian lucu yang pernah terjadi selama kita berkenalan. Tak pernah terhitung sudah berapa kali kita menertawakan sesuatu, bertukar cerita, saling memberikan kabar, dan saling antusias dengan cerita yang sama-sama kita bagikan walaupun hanya melalui pesawat telepon. Terkadang situasi seperti ini membuatku sering berkhayal bahwa kamu mencintaiku. Memang agak konyol, tapi itulah Aku.

Di beberapa kesempatan, seringkali Aku berandai-andai bisa menemuimu, mengajakmu jalan, menembus beberapa momen bersamamu, bertukar cerita di taman dan ditemani pemandangan orang lalu lalang yang tak ada satupun dari mereka memerhatikan kita. Tapi sekarang itu hanya jadi angan-anganku saja.

Debur ombak, awan hitam, dan hujan rintik berubah menjadi dingin seketika. Petir menyambar beberapa awan yang terlihat oleh mataku. Perubahan suasana seperti ini seringkali Aku rasakan, terlebih ketika Kau jauh dariku seperti sekarang. Hingga saat ini, Aku selalu menyimpan pertanyaan tentang apa yang membuatmu punya rencana untuk menjauh dariku. Yang aku tahu, kamu hanya ingin pergi. Hanya itu. Tapi tahukah Kamu, tidak ada satu senti pun Aku bergerak dari tempatku menunggu. Masih ada rasa dan asaku terhadapmu. Rasa dan asa ini yang akhirnya membuatku bisa hidup dan tidak melepaskan cinta yang pernah terbangun. Itu pula yang menjadi alasan Aku menulis ini untukmu walaupun kau mungkin tidak punya waktu untuk membacanya.

Jakarta, 2 januari 2019
Mendengarkan Pure Saturday - Kosong



Sebagai anak kecil, Ia adalah sosok yang selalu merawatku dan memberiku kasih sayang yang berlebih untuk seekor ikan cupang. Menurutku, Aku ...

Sebagai anak kecil, Ia adalah sosok yang selalu merawatku dan memberiku kasih sayang yang berlebih untuk seekor ikan cupang. Menurutku, Aku tidak secantik kawan-kawanku di pasar ikan tempatku dijual. Bahkan Ia juga tidak melakukan tawar menawar dengan penjualnya agar dapat ikan yang cantik di pasar itu seperti orang lain. Abdul, sebut saja Abdul. Anak yang menggemaskan, berambut ikal dan punya lesung pipit di sebelah kiri ini selalu riang gembira saat menemuiku. Tapi hingga seminggu Aku tinggal di rumah ini, Aku tidak pernah melihatnya bermain dengan anak-anak seusianya. Mungkin ini adalah alasan mengapa ia membeliku dari laki-laki berkumis di pasar tadi.

Aku tinggal di atas kulkas tepatnya di aquarium dengan ukuran 30cm x 30cm yang di dalamnya ada rumput dan batu sintetis yang tujuannya agar aku lebih nyaman seperti berada di sungai tempatku dulu diambil. Selain itu, tak lupa juga Abdul memberikanku tanaman mengapung untuk berindung dari serangan dari luar. Aquarium ini tidak begitu kecil dan tidak begitu besar untuk ikan cupang sepertiku, apalagi badanku kecil dan aku tidak suka jika ada cupang lain datang atau satu tempat denganku, entah kenapa.

Pagi ini udara begitu sejuk, tapi ada sesuatu yang janggal. Aku tidak melihat Abdul menyapaku pagi ini. Aku merasa cukup kesepian. Jika situasi ini terjadi, Aku hanya bisa mengitari sisi aquarium berharap ada encu (jentik nyamuk) yang bergoyang-goyang dan aku bisa memakannya sebagai pengganjal perut.

Hingga siang hari Aku tidak menemukan tanda-tanda Abdul datang memberiku makan atau sekedar bermain denganku dengan kacanya. Aku mencoba merebahkan tubuhku di rumput sintetis itu sambil berkhayal apakah Abdul akan mencarikanku kekasih? Semoga saja.

Satu hari berlalu, Aku tidak melihat tanda-tanda bahwa Abdul akan pulang. Selain Abdul, kakaknya Sri juga tidak ada tanda-tanda akan pulang atau sekedar rebahan di kamarnya. Biasanya, perempuan penikmat film Korea ini selalu di depan televisi dengan suara sangat keras dan Ia menangis dengan kencangnya hanya karena menonton film itu. Tak habis di situ, terkadang ia juga membeli poster-poster laki-laki Korea untuk ditempel di kamarnya. Tak heran jika kamarnya penuh dengan gambar laki-laki korea.

Hari ini, menurutku tidak akan ada lagi orang yang menemuiku, Aku mencoba memikirkan apa yang biasa dilakukan manusia jika keluar rumah. Satu yang aku ketahui, mereka mengejar dunia yang penuh dengan kesalahpahaman. Mengukur seberapa lebih mereka dari manusia yang lain, sementara aku hanya memainkan gelembung yang terus naik menuju permukaan aquarium. Hanya itu. Pun jika ada, manusia pula yang membuatkan kontes kecantikan untukku. Tapi, Aku, atau bahkan teman-teman cupangku tidak akan ada niatan seperti itu.

Aku mendengar suara dari balik pintu, Aku yakin itu suara orang membuka pintu. Semoga saja itu adalah Abdul. Muncul suara laki-laki dewasa yang selama ini belum pernah aku dengar, rasa-rasanya agak asing. Ia mendatangiku, mengatakan bahwa aku adalah cupang terbaik yang pernah ia lihat. Aku berpikir itu adalah salah satu tipu muslihat manusia untuk mengelabui siapapun. Ya mungkin saja.

Laki-laki itu memiliki perawakan yang agak aneh menurutku. Kuping yang lebar sebelah, berkumis tebal, tidak terlalu tinggi, dan yang terakhir adalah suka mengendap-endap ketika masuk ke rumah. Aku pikir ia akan mencuri, tapi kecurigaanku tak terbukti ketika Sri datang dan mengajaknya bicara. Entah apa yang mereka bicarakan hingga mereka tertawa terbahak-bahak dan sesekali Sri menutup mulut laki-laki itu agar menahan tawanya. Aku tidak mengerti sikap Sri kepada laki-laki itu. Apakah itu sering dilakukan manusia pada umumnya? Tapi aku tidak terlalu yakin tentang hal itu karena Aku sering sekali melihat Abdul tertawa terbahak-bahak dan tak ada yang melarangnya.

Aku melihat kembali adegan mengendap laki-laki itu menuju kamar Sri. Sri membuka pintunya pelan dan mempersilahkan laki-laki itu masuk ke kamarnya. Aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan, tidak ada suara apapun. Mungkin saja mereka sedang main catur milik Abdul. Karena Aku tahu  Abdul sering sekali membawa caturnya ke kamar Sri. Katanya lebih enak di sana karena kasurnya empuk.

Laki-laki berkumis ini keluar dari kamar Sri dengan menggunakan handuk yang dililitkannya di pinggang untuk menutupi pahanya, kemudian menuju ruang tamu yang tak bisa Aku lihat karena tertutup dinding dapur. Tak lama setelah itu, Sri keluar dengan pakaian yang bagus dengan rambut basah. Yang ada dipikiranku adalah laki-laki itu sedang numpang mandi di kamar Sri. Mungkin benar kata Abdul: kamar Sri adalah enak.

Sri dengan pandangan yang tidak biasa mulai kembali ke ruang tamu, yang artinya Aku tidak bisa melihatnya lagi. Tapi beruntungnya aku bisa mendengarkan mereka bicara dan tertawa bersama. Aku mencintaimu, aku juga mencintaimu. Kata-kata itu keluar dari mulut mereka berdua. Aku terkadang berifkir apakah itu benar-benar cinta? Mengapa mereka tidak menikah saja?

Hari-hari selanjutnya mereka –Sri dan laki-laki berkumis- melakukan hal yang sama dan terus berulang. Seandainya saja aku bisa merubah diriku menjadi manusia, mungkin aku akan memerhatikan mereka lebih dalam. Tapi, mau bagaimana lagi, aku hanya tinggal di aquarium ukuran 30cm x 30cm dengan rumput sintetis yang tidak bisa melihat lebih luas apapun yang terjadi. Terkadang jika aku berpikir seperti itu, aku memilih untuk menjadi ikan cupang saja yang ada di aquarium dan disayang oleh semua orang daripada harus melihat sisi lain dari manusia yang tak pernah kuketahui.

Setiap pagi dari kejadian Sri dan laki-laki berkumis yang sudah tidak pernah terlihat lagi, Aku lebih diperhatikan oleh Sri. Bahkan ia sering sekali menamakanku dengan nama laki-laki itu. Mbul, ya Mbul namanya. Apa ini juga sifat manusia yang suka berkhayal dan bermimpi bahwa ikan bisa menjadi manusia seperti laki-laki itu? Mungkin saja.

Setiap kali Sri memainkanku, Ia selalu terbaring di atas kasur kamarnya dan terkadang berbicara kepada langit-langit seperti langit-langit itu dapat bicara kepadanya. Pada saat yang sama Abdul datang dengan baju yang begitu kotor. Aku menduga itu adalah lelehan es krim yang tak sempat Ia habiskan. Aku mulai kelelahan setelah hampir seharian Sri memainkanku dan memegangku dengan tangannya yang cukup besar itu. Abdul melihatku yang sedang kelelahan, menatapku yang mulai tak bergerak, dan mencedokku dengan gelas plastik. Ia membawaku menuju kamar mandi. Pada saat ia membuka pintu, ia berbalik arah dan membuangku ke selokan.



Mata itu menatap dengan tajamnya, tangannya melambai mengarah kepada laut yang mulai menampilkan warna birunya yang cantik, kerudung panjang...

Mata itu menatap dengan tajamnya, tangannya melambai mengarah kepada laut yang mulai menampilkan warna birunya yang cantik, kerudung panjang yang dibuai-buai angin sesekali melilit bagian kepala dan pundaknya. Seorang Laki-laki duduk di sampingnya dan mengatakan "Alhamdulillah ya, sore telah tiba"

Sore itu ditemani secangkir teh di bawah pohon beringin yang daunnya sesekali berbunyi  karena angin laut yang lumayan kencang.

Perempuan itu sesekali membenarkan posisi kerudung yang dipakainya karena terkadang mengenai wajah Laki-laki. Tanpa sepatah kata, tanpa kegiatan, mereka asik menatap laut dan ombak yang saling mengejar.

Suasana hening semakin terasa, Laki-laki hanya terdiam dan selalu terdiam. Entah apa yang ia pikirkan. Perempuan hanya duduk dan sesekali membenarkan posisi kerudungnya yang semakin tidak keruan.

Duduk berdampingan seperti ini, tidak mudah, tidak biasa, dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Laki-laki merasa ada yang berbeda dari pertemuan mereka sejak pertama kali. Perempuan ini, perempuan yang selalu diam di sebelahnya.

Suasana semakin tidak biasa, keduanya terdiam, keduanya merasa bahwa ada yang berubah dari sikap mereka satu sama lain.

Diam, hanya diam, dan diam lagi yang selalu menjadi pilihan utama keduanya.

"Kau tahu, sejak tadi aku memerhatikanmu"

Perempuan hanya diam. Tidak menoleh, tidak mengucapkan apapun.

"Apa kau baik-baik saja?"

Perempuan masih diam dengan tatapan kosong ke arah laut dan pikiran yang amburadul dan tidak mengucapkan apapun.

"Hey, apa kau dengar aku sedang bicara kepadamu?"

Perempuan tetap diam dan tidak menoleh sedikitpun.

"Hey, bisa kau beri tanda atau kode apapun agar aku bisa memecahkannya?"

Perempuan itu menoleh dengan tatapan kosong, memandang dalam-dalam mata dari Laki-laki dan berbalik menghadap laut kembali.

"Hey, ada apa? apa ada yang salah? tolong jawab"

Perempuan kemudian memandang sekali lagi dengan tatapan datar yang tak biasa kemudian pergi meninggalkan Laki-laki itu sendirian.

"Dasar perempuan. Bagaimana aku tahu maksudmu jika kau tak mengucapkan satu kalimatpun dan memilih untuk pergi" suara dari dalam hati Laki-laki.

Laki-laki masih dengan tempat yang sama, dengan tatapan kosong, dan berharap perempuan memberikan tanda atau sedikit saja kata agar tidak ada salah paham di antara keduanya.

Laki-laki sesekali menengok ke belakang berharap perempuan kembali lagi padanya.

"Hey, mengapa kau hanya diam di situ? apa kau tidak takut?"

"Hey, bisakah kau mengucapkan satu kata saja agar aku mengerti?" Laki-laki itu berteriak dengan suara yang sangat parau.

Perempuan berjalan menuju Laki-laki.

"Jadi bagaimana?"

"Apanya yang bagaimana? kau tak memberikan tanda apapun"

"Ya sudah cukup!!" perempuan sedikit membentak

"Sampai kapan kau terus begini? apa kau lupa kita akan menempuh perjalanan bersama setelah ini?"

"Kita? apa Aku tidak salah dengar?"

"Maksudmu?"

"Sudah, tidak ada lagi yang bisa dibahas"

Perempuan sedikit menunduk, menyembunyikan rasa kecewa dalam matanya. Sesekali ia mengusap mata dan hidungnya yang mulai berair.

"Bisa kau pergi dari sini?"

"Ha?" Laki-laki tidak mengerti

"Kemanapun yang kau mau, kau suka, tolong pergi dari sini dan tinggalkan Aku sendiri"

Laki-laki semakin bingung, semakin gundah, semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

"Maaf jika aku membuatmu kecewa, tapi tak usah kau pikirkan. Kau sekarang boleh meninggalkanku sendirian"

Perempuan terdiam, duduk, dan tertunduk.

Laki-laki meninggalkannya, meninggalkan Perempuan yang sedang tertunduk.

****

Seorang Perempuan terkadang sangat naif dan menginginkan lebih dari seorang yang ia inginkan. Memiliki seutuhnya, mengharapkan kehadirannya, mengharapkan ia mengerti.

Perempuan terkadang tak ingin membuat Laki-laki merasa kecewa dengan perlakuannya dan tidak ingin memaksakan kehendaknya dengan cara menutupinya dengan tangisan.

Penjelasan tak pernah dibutuhkan, yang Perempuan butuhkan adalah kehadiran seseorang yang mengerti apa yang Perempuan mau.

Hidup sekali, jatuh cinta sekali, mencari sekali, setelah itu mati. Mati dengan cinta yang sekali dan hidup dengan Laki-laki yang menginginkannya sekali, tidak lebih.



Setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi dengan kota Purwakarta. Ya tentu saja niatku ke sini adalah untuk liburan dan menyegarkan badan. P...

Setelah sekian lama akhirnya bertemu lagi dengan kota Purwakarta. Ya tentu saja niatku ke sini adalah untuk liburan dan menyegarkan badan. Pada kesempatan kali ini, Aku tidak hanya mampir seperti waktu perjalanan ke Bandung, melainkan menikmati salah satu keindahan kota Purwakarta, yaitu mendaki Gunung Lembu. Purwakarta memang mempunyai banyak sekali tempat wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Selain Gunung Lembu, ada juga Gunung Bongkok, Gunung Parang, Taman Air Mancur Sri Badega dan masih banyak lagi.


Masih ingat dengan personil waktu jalan-jalan ke Bandung? Ya itu pula teman yang akhirnya ikut dalam perjalanan menuju Gunung Lembu. Aku dan teman-teman merencanakan dengan tidak matang (namanya juga manusia labil) karena waktu yang memang agak susah untuk ditemui. Untuk menyiasati itu, kami akhirnya merencakanannya dengan dadakan karena kami tahu untuk menuju Purwakarta hampir setiap hari ada kereta.

Walaupun serba dadakan, kami mencari beberapa informasi mengenai Gunung Lembu tersebut, seperti estimasi biaya, perjalanan, dan durasi kita di Purwakarta agar sesuai dengan waktu yang ada.

Mungkin dari kalian ada yang ingin bertanya mengapa kami memilih Gunung Lembu untuk didaki? Jawaban pertama yang akan aku berikan adalah harga yang murah, kedua adalah tempat yang dekat dari jakarta, ketiga adalah transportasi yang cukup banyak untuk bisa sampai ke sana, keempat adalah cocok untuk para pendaki pemula seperti Aku.

Perjalanan dari Jakarta

Perjalanan ke Purwakarta memakan waktu yang lumayan singkat, yaitu kurang lebih 3 jam dari Jakarta jika menaiki kereta lokal. Jika kalian di Jakarta, mungkin bisa naik melalui stasiun Tanjung Priok atau stasiun Kemayoran. Alasan kami menaiki kereta lokal adalah karena harganya sangat murah yaitu hanya Rp6000,- sudah bisa sampai ke Purwakarta. Tapi saat itu kami mengalami kendala yaitu kehabisan tiket karena telat datang di Stasiun Kemayoran. Tiket ke Purwakarta habis sekitar pukul 15.30 WIB, tapi kami datang sekitar Pukul 16.00 WIB.

Sore di Kemayoran
Solusinya dari keterlambatan ini adalah menunggu. Mungkin ini adalah konsekuensi untuk orang-orang lalai seperti kami. Tidak hanya menunggu, kami juga saat itu kehabisan kereta ke Purwakarta, hanya tersisa kereta sampai Cikampek. Karena kami hanya punya waktu 2 hari saja, jadi mau tidak mau kami naik kereta arah Cikampek. Saat itu keberangkatan kami pukul 17.30 WIB dan sampai di Cikampek Pukul 19.30 WIB. Sesampainya di Cikampek, kami melanjutkan perjalanan menuju purwakarta dengan menaiki angkot sampai stasiun Purwakarta. Saat itu kami sampai sekitar Pukul 21.00 WIB karena angkot ngetem di pinggir jalan.

Untuk biaya angkotnya sendiri bervariasi mulai dari Rp10.000.- sampai dengan Rp20.000,-. Harusnya ngirit, malah jadi nambah. Ya inilah konsekuensi untuk orang-orang yang lalai.

Stasiun Purwakarta - Gunung Lembu 

Untuk mencapai Basecamp Gunung Lembu, Aku menyarankan untuk menyewa angkot -jika tidak punya motor- ke sana karena perjalanan cukup jauh dan tidak ada kendaraan umum untuk sampai ke sana. Harga sewa angkot untuk PP adalah sekitar Rp250.000,- sampai dengan Rp300.000,- tergantung banyaknya orang yang menyewa. Waktu itu kami mendapatkan harga Rp250.000,- untuk 4 orang PP. Basecamp Gunung Lembu sendiri berada di Dukuh Manunggal, Desa Sukatani dan jaraknya dari Stasiun Purwakarta sekitar 25 Km dengan jalan yang lumayan terjal dan banyak sekali lubang.

Saat itu kami sampai di Basecamp sekitar pukul 23. 30 WIB dengan kondisi perut lapar. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di Basecamp, makan, bersih-bersih, dan mempersiapkan untuk pendakian Pukul 1.00 WIB. Lagi-lagi kami ngaret untuk memulai pendakian karena pemilik Basecamp bilang perjalanan hanya sekitar 2 Jam saja. Waktu yang lumayan singkat menurutku.

Sekitar Pukul 01.45 WIB kami memulai perjalanan dengan mengisi form administrasi dan membayar Rp5000,- untuk masuk ke wilayah Gunung Lembu. Kami mulai mendaki jalan dan melewati beberapa bebatuan. Awalnya kami mengira bahwa salah satu dari kami ada yang membawa senter untuk di perjalanan. Tapi nyatanya tidak ada yang membawa. Akhirnya kami kembali ke Basecamp untuk membeli senter untuk penerangan di perjalanan. Oiya, FYI, Untuk kalian yang tidak banyak membawa peralatan untuk mendaki, di Basecamp ini menyediakan peralatan tersebut. Ada yang harus beli, ada juga yang bisa disewa seperti tenda, tas, jas hujan, dll.

Perjalanan Menuju Puncak

Gunung lembu mempunyai 3 pos yang bisa dilalui agar sampai ke puncak dengan jalanan yang cukup terjal dan lumayan miring. Saat mendaki masih sangat gelap dan harus berhati-hati karena banyak sekali jalan yang bersebelahan dengan jurang. Kata warga setempat, banyak pendaki yang meninggal dan tidak ditemukan di jurang tersebut. Lumayan ngeri.

Bermodalkan senter yang kami beli di Basecamp tadi, kami mendaki dan akhirnya sampai ke Pos 1. Di sini ada warung kecil untuk beristirahat jika kalian merasa agak lelah. Jalannya memang miring sekali, jadi butuh banyak tenaga untuk mencapainya. Perjalanan sekitar 20 Menit untuk sampai di Pos 1.

Menurutku, jalur pendakian Gunung Lembu cukup jelas dan tak akan mudah kesasar bagi pemula. Kami saja yang baru pertama kali saat itu dan tidak ada barengan dari pendaki lain bisa sampai di puncak dengan mengikuti arah jalan yang sudah ada.

Oiya, di jalur pendakian banyak sekali bambu dan pohon-pohon tumbang. Jadi disarankan untuk berhati-hati.

Dari Pos 1 ke Pos 2 lumayan pendek jaraknya dan jalannya tidak terlalu terjal. Sekitar 10 menit kami sudah sampai di Pos 2. Pos 2 dan Pos 1 mempunyai kemiripan yaitu mempunyai saung untuk beristirahat dan warung untuk membeli keperluan. Untuk malam hari seperti saat kami mendaki, Pos 2 tidak buka, tapi ada pendaki yang tidur di sana.

Meninggalkan Pos 2, tanjakan mulai terasa dengan kemiringan yang cukup curam. Tapi baiknya saat itu kondisi jalurnya aman karena tidak basah. Jika basah dan musim hujan, mungkin kami akan kesulitan untuk mendakinya. Saat menuju Pos 3, Nafas terasa ingin habis, tenaga rasanya sudah terkuras. Mungkin karena kami tidak pemanasan, perjalanan panjang, dan kurang tidur. Menurutku begitu. Atau memang kami yang lemah.

Jalan menuju Turun
Saat jalan menanjak sekitar 1 Jam, akhirnya kami menemukan jalanan yang cukup landai. Setidaknya ada jalan yang bisa dipakai untuk beristirahat. Kami pikir, jalan landai itu adalah puncaknya. Tapi sepanjang jalan, kami tidak menemukan satupun tenda yang berdiri. Awalnya khawatir nyasar, tapi kami melanjutkan perjalanan kembali dan menemukan lagi tanjakannya.

Sekitar Pukul 3.30 WIB kami sudah melewati petilasan dan menemukan tenda-tenda berdiri di mana-mana. Akhirnya puncak Gunung Lembu sudah kami capai. Tapi, pada saat itu kami bingung mencari pemandangan dan di mana Batu Lembunya? Saat itu belum ada seorangpun yang bangun dari tenda. Akhirnya kami melanjutkan lagi perjalanan. Jauh dari ekspektasi kami, ternyata jalanan yang kami tempuh mulai menurun.

Ya itu dia, Batu Lembunya.

Pemandangan malam saat di Batu Lembu
Akhirnya kami sampai sekitar Pukul 04.00 WIB dengan keadaan yang lumayan lelah dan berkeringat. Lagi-lagi, karena kami manusia lalai, kami tidak membawa tenda untuk sekedar tidur. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur di atas Batu Lembu.

Yak. Dia kedinginan
Walaupun ada saung di atas, kami tidak kebagian karena sudah sangat penuh. Ya mau tidak mau harus tidur dengan kedinginan. Aku mencoba untuk tidur, tapi sepertinya sangat nanggung jika harus kehilangan sunrise indah pagi hari. Aku menghabiskan waktu saat itu dengan streaming piala dunia yang mempertemukan Inggris dan Croatia. Sinyal di sini cukup bagus menurutku. Masih 4G untuk provider Telkomsel.

Pukul 05.20 WIB, banyak pendaki yang mulai menempati Batu Lembu. Mungkin agar mendapatkan matahari terbit yang terbaik. Aku menunggu di atas, mengharapkan hal yang sama. Pukul 05.30 WIB, matahari mulai muncul dengan warna indahnya dan beberapa pendaki mulai mengeluarkan gawainya untuk sekedar berfoto atau untuk membuat timelapse.

Matahari Terbit dari Timur
Pemandangan dari atas Batu Lembu sangat indah. Dari atas, kita bisa melihat terbentang luas Waduk Jatiluhur dan ratusan keramba ikan. Selain itu, ada perbukitan hijau yang cantik sekali.

Setelah puas menikmati keindahan kota Purwakarta dari atas, Kami memilih untuk pulang karena puncaknya sudah kami taklukan, dan tak ada lagi yang kami cari.

Puas rasanya perjalanan selama 2 hari ini. Sampai ke Batu Lembu, melihat kota Purwakarta dari atas, menembus dinginnya malam, berjalan bersama teman-teman, dan yang paling penting menjadi lebih dekat dengan Tuhan yang maha pencipta.

Sampai jumpa lagi Lembu !!
Bocah Mamoy

Kesalahan pertama untuk dikatakan sebagai seorang penjahat oleh laki-laki adalah dicintainya. Apapun alasannya, perempuan seperti kita adala...

Kesalahan pertama untuk dikatakan sebagai seorang penjahat oleh laki-laki adalah dicintainya. Apapun alasannya, perempuan seperti kita adalah seorang penjahat. Kesalahan kedua adalah terlahir menjadi perempuan yang dicintai, bukan mencintai. 

Pagi ini Aku bingung dengan apa yang terjadi setelah sekian lama bertemu denganmu di depan kantin sekolah itu. Aku duduk bersamamu, saling memandang malu, memakan satu demi satu aci goreng yang sudah sama-sama kami pesan. Jujur, waktu itu Aku ingin sekali banyak bicara padamu perihal hubungan kita, namun aku berpendapat bahwa menyembunyikan pertanyaan lewat senyuman adalah hal yang terbaik.

Dengarkan: Kita memang saling menyukai, bukan berarti mencintai. Jangan lagi berharap banyak padaku, karena Aku tidak ingin terlalu terburu-buru.


Aku selalu ingat pertemuan pertama kita hingga hari ini. Jika Aku boleh jujur, Kamu adalah laki-laki yang paling baik yang pernah Aku temui. Tapi, sebagai seorang perempuan, Aku harus berpikir panjang untuk menetapkan pilihan dan memberikan hatiku padamu. Mungkin menurutmu akan sangat mudah, tapi untuk kaum perempuan sepertiku, ini adalah salah satu hal yang paling sulit ditetapkan.

Sejak Aku mengenalmu, Aku tahu bahwa Kamu sangat terkenal di kalangan para perempuan. Bahkan, temanku, Rahma sudah menyukaimu sejak awal bertemu. Tak hanya Rahma, tapi masih banyak perempuan yang tergoda oleh sosokmu yang menawan, kecuali Aku. Mungkin mereka bisa tergoda, tapi, jujur, hingga saat ini perasaanku biasa saja kepadamu.

Mungkin Kamu bertanya-tanya apakah Aku telah mencintaimu setelah hari-hari kemarin kita lalui bersama dan kedekatan kita semakin intens. Kebersamaan yang terbangun diantara kita memang menumbuhkan rasa simpatiku, tapi sangat sedikit. Kamu mungkin ingat ketika Aku memintamu untuk menjemputku di Rumah dan memintamu untuk mengajakku jalan ke tempat yang asik. Masih ingat? Kita membahas banyak sekali topik dan tak pernah habis hingga Kamu mengantarkanku ke rumah kembali. Tidak hanya itu, masih ingat ketika kita sering sekali ngobrol via telpon dari malam hingga pagi hari? Masih? Ya mungkin semua itu adalah penghargaan atas perasaanmu, karena Aku berharap kita tidak pernah lebih dan mengalir begitu saja.

Aku masih sangat ingat ketika Kamu begitu memerhatikanku, mulai dari kesehatan hingga akademik-ku. Bahkan Kamu sering menuntut ini dan itu untuk masa depanku yang lebih baik, dan tak jarang juga Aku sering meminta saran darimu. Aku tahu, Aku tahu kau mencintaiku, tapi, hingga saat ini Aku tidak pernah memberimu garansi atau janji bahwa kita akan terus bersama dan Aku mencintaimu seperti Kamu mencintai Aku.

Banyak orang yang bilang kepadaku bahwa Aku adalah perempuan yang paling beruntung di muka bumi ini karena bisa mendapatkanmu. Jujur, ketika mereka bilang seperti itu, aku hanya bersikap biasa dan terkadang berpikir bahwa itu sangat berlebihan karena yang aku rasakan tak lebih jauh dari anak kecil yang baru saja belajar keluar rumah. Apapun kegiatanku, Aku harus melaporkannya kepadamu, tak jarang juga aku tak melaporkan karena itu privasiku, tapi Kamu begitu marah karena takut ada hal yang terjadi padaku nanti. Ah itu sangat menyebalkan karena Kamu pikir aku sudah sepenuhnya milikmu? Terlebih jika Kamu berada di dekat temanmu, Kamu selalu memamerkan diriku. Itu sungguh menyebalkan.

Menurutku, Aku masih sangatlah muda untuk bergelut di dunia seperti itu. Kamu tahukan? Mimpiku masih banyak yang belum tercapai dan harus segera aku capai sedikit demi sedikit. Selain itu, Aku masih punya keluarga yang mencintaiku dengan setulus hatinya dan Aku sangat menyayangi mereka. Jika menurutmu cinta itu yang Kamu jadikan prioritas utama dalam hidup hingga kau berani mempertaruhkan hidupmu untukku, apakah Kamu tidak akan menyesal jika nanti impian dan harapanmu hilang begitu saja?

Aku harap Kamu mengerti tentang ini.

Dengan adanya tulisan ini, Aku berterimakasih dengan semua yang telah kamu berikan. Waktu, uang, tenaga, pikiran, hingga hubungan dengan orang lain yang tak mungkin aku mengetahuinya karena itu kehidupanmu. Aku juga menyarankanmu untuk tidak terlalu berharap terhadap apapun, masih banyak sekali yang harus kita cari dan kita pelajari.

Dengarkan: Hingga saat ini, hingga aku bilang aku mencintaimupun (mungkin), belum tentu kita akan menjalin cinta hingga akhir hayat. Kita belum tentu bertemu di pelaminan, kita belum tentu bertemu di kamar kita, kita belum tentu. Semuanya titipan, titipan tuhan dan tuhanlah yang mengaturnya. Tolong bertingkah sewajarnya, sebagaimana aku pernah mengisi hari-harimu, sebagaimana kita sebagai seorang sahabat.

Dari aku - yang pernah bilang kepadamu bahwa aku tak pernah menjanjikanmu apa-apa via chat.


Seperti biasa, jika malam tiba aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Menikmati pemandangan kamarku yang setiap mi...

Seperti biasa, jika malam tiba aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdiam diri di kamar. Menikmati pemandangan kamarku yang setiap minggu berganti dekorasi, membuatku merasa nyaman bila berada di dalamnya. Buku yang berada di dinding dengan topangan sebuah kayu bekas buah, tanaman kaktus dalam ruangan yang kata sebagian orang bisa menjadi tambahan oksigen, gitar yang selalu ada di sudut kamarku, poster liverpool di belakang pintu, dan tak lupa ada vas bunga kosong yang ada di meja belajarku yang berantakan. Aku sengaja tak mengisinya karena aku ingin bunga yang mengisinya adalah bunga yang sesuai dengan imajinasiku.

Malam ini, sebenarnya aku sedikit ingin bernostalgia tentang percintaanku dengan lelaki yang dulu pernah aku yakini sebagai suamiku namun itu tidak kesampaian.

Seperti biasa, aku menghabiskan beberapa pekerjaan sebelum Pukul 22.00 WIB alasannya sederhana karena aku tidak ingin waktu krusial yang sepi ini diganggu oleh beberapa kegiatan, terutama kegiatan yang membuatku kesal. Malam ini aku memutuskan untuk pergi mengunjungi ikan-ikan laut sebagaimana dulu pernah aku lakukan dengan pacarku. mengunjungi ikan laut terkadang sudah menjadi hal yang harus dilakukan ketika kami kencan, selain ciuman tentunya.

Terkadang jika situasi seperti ini sedang terjadi, aku membayangkan bagaimana jadinya jika ia kencan dengan wanita lain. Apakah akan melakukan hal sama dengan apa yang dilakukannya denganku? Apakah ia akan mengajak wanita itu kencan mengunjungi ikan? Atau mengajaknya belanja ke mall? Atau sesekali diajak bermain wahana di dufan? Atau mengunjungi ikan di dufan sambil berbelanja? Ah peduli amat tentang mereka.

Aku terkadang jadi berpikir kenapa kami dulu bisa bersama, padahal kami tidak mempunyai kesamaan sedikitpun. Aku sangat suka dengan ilmu bela diri, sedangkan pacarku menyukai syair dan puisi. Sangat yang bertolak belakang bukan? Atau mungkin karena referensi beberapa teman yang juga punya pacar seorang penyair aku bisa menerimanya? Karena yang aku tahu, penyair tak sesuai dengan yang diinginkan perempuan, ia hanya akan menulis sesuai dengan mood-nya. Mereka sebenarnya bisa menulis tentang wanitanya dengan kalimat romantis, menuliskan nama pacarnya dalam buku atau tulisannya, membuatkan video romantis dari terbit dan terbenamnya matahari. Mungkin seperti itu. Tapi, yang terjadi tak sesuai dengan yang aku bayangkan. Mau bagaimana lagi?

Aku menjalani hubungan dengan pacarku lebih dari 3 tahun sampai akhirnya kami putus. sejak kami SMA, aku memang sudah mengenalkannya kepada keluarga. Takut-takut ada yang terjadi kepadaku, orangtuaku tahu akan mencari informasi ke siapa. Selain itu, jika aku ditanya kapan menikah, aku akan dengan gampang bilang "Tanya saja calon suamiku".

Perjalanan 3 tahun kami pacaran yang menurutku sebentar ini kami habiskan untuk hal yang monoton sekali seperti: tertawa bersama, makan bersama, jalan bersama, telponan hingga larut malam, boncengan mengililingi kawasan, atau menonton film. Untuk apa aku punya pacar hingga lama seperti itu padahal aku bisa melakukannya bersama teman? Apa untungnya? Ya ampun, bodohnya diriku.

Perihal kebodohan, temanku pernah berkata "setiap orang yang saling cinta dengan lawan jenisnya, maka ia akan jadi orang tergoblog di dunia". Aku pernah percaya tentang hal ini ketika aku sedang berada di rumah sendirian dan pacarku dengan cepat menemuiku padahal waktu sudah sangat larut. Sungguh bodoh. Tapi, aku juga tidak percaya itu karena pernah suatu ketika aku sedang kesulitan dalam mengerjakan tugas, ia datang membantuku dengan jawaban yang menurutku sangat super sekali, dan apapun pertanyaanku pasti ia bisa menjawabnya. Ya aku tidak percaya kalau dia goblog.

Sebenarnya malam ini aku sangat malas untuk melakukan apapun, bahkan untuk menengok kearah samping saja aku tidak ingin.
Malam ini sangat dingin, udara laut sedang kencang berhembus, ombak-ombak mulai besar menuju pinggiran pantai, dan purnama bersinar dengan terang. Aku jadi ingat pesan pacarku ketika purnama datang dan kami sedang tidak dalam satu tempat yang sama "Kamu lagi di mana? Coba keluar deh, Bulannya cantik. Aku melihatnya tersenyum padamu".

Ah sial, aku kembali lagi mengingatnya.

Aku memutuskan untuk pulang karena menurutku cuaca sudah tidak mendukung dan aku harus bekerja besok pagi. Aku pulang dengan pikiran tentang dia dan masa lalu, hingga akhirnya cerita ini dihentikan oleh pesan singkat dari seseorang yang tertulis jelas: "Coba liat ke jendela, di langit ada aku sedang tersenyum untukmu"

Sungguh sial!!



[07.49, 9/20/2015] Adam Stallin: Aku tahu, aku pernah salah terhadapmu. Kesalahan yang menurutku bisa membuatku malu, Malu untuk menghubu...

[07.49, 9/20/2015] Adam Stallin:
Aku tahu, aku pernah salah terhadapmu.
Kesalahan yang menurutku bisa membuatku malu,
Malu untuk menghubungimu,
Malu untuk menemuimu.

Hingga hari ini,
Aku tak pernah menangis lagi,
Menangis karena kita memang tidak bisa memiliki.

Aku pernah bertemu dengan kakek tua yang dulu pernah kita sambangi bersama,
Memberikannya sedikit rejeki seperti yang sudah kita lakukan terdahulu.
Aku kangen melakukannya lagi, lagi, bersamamu.

[07.50, 9/20/2015] Adam Stallin:
Hari ini, aku kembali lagi menghubungimu.
Entah karena perasaan apa, atau karena kebetulan saja tanganku menginginkannya?
Ah persetan dengan itu semua.
Semua sudah terlanjur.
Kata-kata ini sudah terlanjur ku ketik.

[07.52, 9/20/2015] Adam Stallin:
Aku tidak tahu sekarang, kemaren dan besok akan menulis apalagi
Apakah menulis tentang kita?
Tentang akhir dunia?
Tentang masa kelam?
Tentang penjajahan?
Atau tentang laki-laki yang kangen dengan seorang wanita?

[20.32, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Hay :)

[20.32, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Kamu sedang baik-baik saja? Maaf aku baru ada pulsa sms

[20.33, 9/26/2015] Adam Stallin:
Yap. Sama seperti dulu.

[20.38, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Sibuk apa sekarang?

[20.38, 9/26/2015] Adam Stallin:
Sama seperti dulu. bengong, ngelindur, memerhatikan sekitar.

[20.42, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Ah, kamu memang ga pernah berubah yah.
Ngomong-ngomong sekarang kamu sudah punya pacar lagi?

[20.43, 9/26/2015] Adam Stallin:
Aku jadi ingat perkataanmu ketika terakhir kali kita main ke warung kopi cak miun

[20.44, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Apa itu?

[20.45, 9/26/2015] Adam Stallin:
Tentang mimpi basah.

[20.54, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Hahahahhaa. Tentang itu, sampai sekarang aku masih belum pernah merasakannya. Entah yang asli atau yang palsu.

[20.55, 9/26/2015] Adam Stallin:
Aku pernah mimpi bersama orang Jepang. Ternyata biasa saja. lebih menarik lokal.

[21.17, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Hahahaha. Aku tahu sekarang apa maksudmu. Aku punya kenalan yang menurutku akan cocok denganmu. Dia cantik, pintar, wawasannya luas, suka menulis, suka menonton film, dan yang terpenting adalah dia sudah berpengalaman tentang mimpi basah. mau aku kenalkan?

[21.18, 9/26/2015] Adam Stallin:
Untuk sekarang sepertinya belum. Aku masih saja teringat akan omonganmu ketika kita putus. Aku bukan tidak suka dengan cowo baik. Tapi, aku tidak suka dengan cowo yang suka sama syair, sering nulis tentang senja, lakinya berkurang, aku juga tidak yakin kamu masih bisa ereksi. Aku sepertinya akan gagal bersamamu.

[21.23, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Hahahaha. Kamu ternyata perekam yang baik yah.

[21.24, 9/26/2015] Adam Stallin:
Kemarin aku menulis puisi di depan kucing yang sedang kawin.

[21.32, 9/26/2015] Wanda Faizah:
Maksudmu???

[21.33, 9/26/2015] Adam Stallin:
Kita memang ga bakal bisa bersatu lagi.

[09.13, 10/3/2015] Wanda Faizah:
Halo Dam. :)

[09.14, 10/3/2015] Adam Stallin:
Hay. Bagaimana Kabarmu?

[09.15, 10/3/2015] Wanda Faizah:
Aku hanya ingin kamu bantu like karyaku di instagram @kontespemudart nomor 14. Makasih yah ^_^





*terinspirasi karya Dea Anugrah


Hai, wanita berkerudung ungu yang aku temui di bandara Polonia, masih ingat denganku? Orang yang pertama kali kau ajak kenalan ketika ki...


Hai, wanita berkerudung ungu yang aku temui di bandara Polonia, masih ingat denganku? Orang yang pertama kali kau ajak kenalan ketika kita sampai di Medan. Kita pernah bertemu tepat 6 tahun yang lalu dalam bis yang mengantarkan kita ke hotel madani. Masih ingat? Kalau belum, aku dulu adalah laki-laki yang memakai kemeja warna hijau dengan celana jeans dan tas berwarna hitam. Sudah sedikit ingat? Ya itu adalah aku.
Maaf, mungkin kata yang bisa aku ucapkan setelah pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak pernah menemuimu pasca pertemuan kita. Bukannya aku tidak mau, tapi tidak bisa. Dulu, memang kau sempat memberiku nomor telpon dan kita seringkali sms-an hingga larut malam. Namun, sekarang nomormu menghilang bersama dengan raibnya handphoneku saat perjalanan menuju pulang di bandara. Aku kehilangan beberapa kontak penting, salah satunya adalah kontakmu.
Untuk gadis Aceh yang sekarang mungkin masih mencariku, atau sudah lupa denganku.
Seandainya kita bertemu di era modern seperti ini, mungkin kita tidak akan pernah kehilangan kontak. Ya, aku pikir akan seperti itu. Kita akan bertukar ID line, Twitter, Facebook, atau Instagram. Tapi, dulu memang tidak seperti sekarang, apalagi aku memang gaptek.
Kau tahu, aku teringat denganmu ketika aku sedang membersihkan barang lama di kamarku. Aku menemukan gantungan kunci berbentuk rencong (salah satu pusaka aceh) dan ketika itu aku mengingatmu, mengingat apa yang sudah berlalu, membuka folder foto pada zaman itu tapi aku tak menemukan satupun wajahmu di folder itu. Mungkin karena kau lupa membaginya denganku atau sudah hilang bersama handphone-ku? Ah akupun sudah lupa dengan kejadian itu.
Sudah hampir seminggu ini aku mencari namamu di mesin pencari Google. Berharap setidaknya aku menemukan akun milikmu. Entah itu Twitter, Instagram, atau Blog. Tapi yang jadi permasalahan hingga sekarang adalah aku lupa nama belakangmu. Zahra-kah? Atau Fatimah? Aku masih tidak yakin dengan hal itu.
Setiap kali aku mencari namamu, ada jutaan orang yang mempunyai nama yang sama, aku meneliti dan membayangkan wajahmu yang sekarang sudah samar-samar di kepalaku masih dengan pengharapan yang sama, yaitu menemukan kontakmu.
Kemarin, aku mendapatkan satu nama yang berdomisili di Aceh. Sosoknya cantik, sama sepertimu, tapi aku masih belum yakin bahwa itu adalah kamu. Ah memang menyesakkan sekali jika tidak bisa mengingat wajahmu dengan jelas. Memoriku hanya mampu menyimpan lirikan, senyuman, dan sapaanmu saja setiap pagi.
Untuk gadis manis dari Subulussalam.
Jika boleh jujur, aku menyesal tidak bisa memenuhi ajakanmu untuk main ke rumahmu saat itu. Mungkin jika aku menerimanya, mungkin kita akan duduk dibawah pohon dan menikmati secangkir teh, kita bercanda seperti saat pertama kita bertemu, menghabiskan hari itu dengan tawa dan senyummu yang manis itu. Tapi, itu hanyalah hayalan. Semuanya sudah berjalan dan aku menolaknya.
6 tahun sudah kita tidak bertemu. Apakah kau sudah menyelesaikan studimu dan bekerja sebagai guru yang kau inginkan sejak kecil? Jika iya, alangkah berungtungnya muridmu bisa mendapatkan senyuman manis itu sebelum mengawali harinya. Sedangkan aku? Aku masih berkutat dengan segala kekosongan kegiatan. Mungkin menulis surat ini atau mengingatmu bisa menjadi oase untukku. Sekaligus sebagai pelampiasan rindu sejak 6 tahun yang lalu.
Untuk gadis yang sekarang entah ada di mana.
Sejak hari ini dan seterusnya, aku akan selalu berdoa kepada tuhan untuk mempertemukan kita kembali dengan status apapun. Aku akan menepati janjiku untuk mengajakmu bermain di pantai, berenang bersama ikan, menaiki kapal, dan memancing ikan besar bersama. Jika kau mabuk, tenang saja. Sesuai janjiku waktu itu, aku akan memastikanmu tenang, aman, dan bahagia bersamaku.
Satu minggu pertemuan kita adalah satu minggu yang paling menyenangkan bagiku. Aku tidak pernah peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kita, yang aku pedulikan adalah tatapan dan senyumanmu ketika kita bercengkrama bersama. Bahkan, ketika kehabisan kata-kata dan akhirnya kita sama-sama terdiam, aku yakin hati kita kala itu saling berbicara.
Jika kau masih ingat, tolong hubungi aku segera, aku menunggumu.